
AMPHURI.ORG, JAKARTA–Jutaan umat Islam di Indonesia kini menghadapi rintangan berat untuk berangkat ke Tanah Suci. Lonjakan harga tiket penerbangan yang terjadi secara mendadak dan signifikan memicu guncangan hebat pada ekosistem penyelenggaraan umrah nasional. Kondisi tersebut memaksa Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) bersuara lantang demi melindungi kepentingan jamaah.
Hal ini diungkap Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) AMPHURI, Ulul Albab, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Ulul menegaskan situasi saat ini bukan sekadar urusan fluktuasi bisnis travel. Kenaikan biaya yang tak terduga ini juga berdampak langsung pada masyarakat yang sudah menabung bertahun-tahun demi memenuhi panggilan ibadah.
“Dunia penyelenggaraan umrah sedang tertekan hebat. Kenaikan harga tiket menciptakan ketidakstabilan paket dan memicu kegelisahan mendalam bagi calon jamaah yang sudah merencanakan keberangkatan mereka sejak lama,” ujar Ulul.
Ulul mengakui dinamika industri penerbangan seperti harga avtur, kurs mata uang, hingga kebijakan operasional maskapai penerangan memang sulit dihindari. Namun, Ulul pun menyayangkan kebijakan yang diambil tanpa transparansi dan komunikasi memadai kepada para pemangku kepentingan.
Ketidakpastian harga menjadi masalah yang paling mencekik bagi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Perubahan harga yang sangat cepat tanpa pola yang jelas membuat biro perjalanan sulit menjaga komitmen harga kepada jamaah yang sudah terdaftar.
Karena itu, lanjut Ulul, AMPHURI mendesak kehadiran negara. Kementerian terkait dan regulator transportasi juga diminta tidak membiarkan sektor pelayanan ibadah ini bertarung sendirian melawan tekanan pasar yang liar.
“Pemerintah perlu segera membangun ruang dialog sehat antara maskapai, asosiasi, dan pemerintah. Jangan sampai ibadah umat menjadi korban tarik-menarik kepentingan ekonomi jangka pendek,” tandasnya.
Menurutnya, langkah yang diambil AMPHURI saat ini adalah melakukan konsolidasi nasional dan mengumpulkan data konkret mengenai dampak kenaikan tiket. Organisasi ini memilih jalur konstitusional untuk mencari solusi tanpa harus menciptakan kegaduhan di ruang publik.
Di sisi lain, jajaran anggota asosiasi diimbau tetap menjaga profesionalitas dalam melayani jamaah. Ulul mengingatkan bahwa kepercayaan publik adalah modal utama yang tidak boleh dikhianati.
“Di balik setiap keberangkatan ke Tanah Suci, ada doa dan pengorbanan hidup yang tidak kecil. Harapan umat ini tidak boleh dipermainkan oleh situasi yang tidak adil,” pungkasnya. (hay)