DPR Apresiasi Diklat PPIH 2026, Tingkatkan Layanan Jamaah Haji
January 11, 2026
Inilah Pesan Penting Dirbina Petugas Haji yang Wajib Dipatuhi PPIH
January 13, 2026

Diklat PPIH 2026, Calon Petugas Haji Digembleng Kekuatan Fisik dan Mental

AMPHURI.ORG, JAKARTA—Penguatan fisik dan mental bagi seluruh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menjadi poin penting dalam materi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PPIH Arab Saudi Tahun 1447H/2026M. Petugas haji dituntut untuk memiliki stamina yang prima, daya tahan emosi, serta kemampuan mengelola stres di tengah dinamika lapangan yang kompleks.

Demikian disampaikan Kepala Sub Direktorat Fasilitasi Kemitraan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, Suviyanto, saat memberikan pembekalan kepada calon petugas haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (12/1/2026).

“Petugas harus kuat fisiknya, tangguh mentalnya, dan lapang hatinya. Karena yang kita hadapi adalah manusia dengan berbagai karakter dan kondisi,” ujarnya.

Menurutnya, dalam rangka memberikan penguatan fisik dan mental, calon petugas haji menerima materi dan praktik baris-berbaris selama menjalani Diklat PPIH oleh para instruktur yang berasal dari TNI/Polri. Hal ini bertujuan untuk melatih kedisiplinan, kekompakan, profesionalisme dan kesiapan dalam melayani jamaah haji.

Lebih lanjut Suviyanto mengingatkan, memberikan pelayanan prima kepada jamaah merupakan tugas pokok petugas haji mulai dari keberangkatan, selama di Tanah Suci, hingga kepulangan ke Tanah Air. Para petugas juga dituntut memberikan pelindungan dan pendampingan khusus kepada jamaah haji, khususnya kepada jamaah lansia, disabilitas, dan jamaah berisiko tinggi.

“Selain itu petugas juga harus menjaga ketertiban dan kelancaran operasional, baik di embarkasi, debarkasi, maupun di Saudi. Kami juga ingin selama bertugas nanti, petugas dapat menjadi teladan akhlak dan etika, dengan mengedepankan kesabaran, empati, dan keikhlasan,” tegas Suviyanto.

Dalam arahannya, Suviyanto meminta para petugas untuk ‘mewakafkan diri’ dalam melayani jamaah haji, karena jamaah merupakan Tamu Allah yang harus dimuliakan tanpa membedakan latar belakang, status sosial, maupun asal daerah.

“Ketika kita melayani jamaah, sejatinya kita sedang mengagungkan Allah. Semua jamaah sama di hadapan kita, karena mereka adalah tamu Allah,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya diukur dari aspek teknis, tetapi juga dari ketulusan dan kualitas pelayanan yang dirasakan langsung oleh jamaah.

Lebih lanjut, Suviyanto berpesan agar setiap petugas tidak melupakan dukungan keluarga. Secara khusus ia mengingatkan pentingnya meminta ridho keluarga agar pelaksanaan tugas menjadi ringan dan penuh keberkahan.

“Mintalah ridho keluarga sebelum berangkat. Insya Allah tugas akan terasa lebih ringan dan dimudahkan oleh Allah,” pesannya. (hay)

Leave a Reply