Menag: Petugas Siap Sambut Kedatangan Jamaah
April 30, 2025
Dirjen PHU: 18 Kloter Mulai Masuk Asrama Haji, Jamaah Jakarta Terbang Perdana
May 1, 2025

Haji, Panggilan Cinta dari Langit

Oleh: Ulul Albab *)

HAJI bukan sekadar perjalanan fisik, tapi panggilan cinta dari langit—perjalanan spiritual yang mendidik hati, menghapus kesombongan, dan mengubah status menjadi kesetaraan, gelar menjadi keikhlasan. Mulai 1 Mei 2025, Indonesia memberangkatkan kloter pertama jamaah haji ke Tanah Suci.

Dalam kesempatan ini, AMPHURI menyambut musim haji dengan cara yang khas: menyapa para calon tamu Allah lewat rangkaian artikel berseri. Artikel ini adalah pembuka dari serial reflektif “Menuju Haji Mabrur” yang ditulis oleh Ketua Bidang Litbang DPP AMPHURI, Ulul Albab yang disusun sebagai bentuk edukasi dan inspirasi menuju satu tujuan yang sama: ibadah haji yang mabrur, baik secara spiritual maupun sosial.

Tulisan pertama ini mengangkat tema besar: tentang panggilan. Bukan sekadar panggilan administratif dari Kementerian Agama, tetapi panggilan yang lebih dalam—panggilan cinta dari langit.

Panggilan yang tak semua orang bisa menjelaskannya dengan logika, namun sangat mungkin dirasakan oleh hati yang tulus dan rindu.

Selalu ada yang membuat kita merenung setiap kali musim haji tiba. Ada orang yang merasa belum siap—baik secara ekonomi maupun keilmuan—tetapi justru tiba-tiba bisa berangkat. Sebaliknya, ada pula yang merasa sudah menabung puluhan tahun, namun panggilan itu tak kunjung datang.

Maka benarlah bahwa haji bukan semata perjalanan fisik, melainkan rihlah spiritual yang sangat personal. Haji adalah kehendak Ilahi, yang datang pada waktu yang dikehendaki-Nya.

Mereka yang berangkat, hakikatnya adalah tamu-tamu istimewa. Mereka dijamu oleh Allah, bukan hanya untuk melihat Ka’bah, tetapi juga dijamu dengan ujian sabar, pengendalian diri, serta pelajaran hidup yang tak bisa dibeli oleh apa pun di dunia ini.

Haji tidak hanya untuk berdiri di Padang Arafah, tetapi juga untuk berdiri di hadapan dirinya sendiri, lalu bertanya: Sudahkah aku benar-benar menjadi hamba Allah yang sebenarnya?

Salah satu momen yang paling menyentuh dalam haji adalah ketika ihram dikenakan. Dua helai kain putih tanpa jahitan yang menghapus segala simbol duniawi. Tidak ada profesor atau petani, tidak ada menteri atau sopir angkot—semua sama, semua setara di hadapan Allah.

Ihram mengajarkan bahwa segala bentuk status, pangkat, jabatan, dan gelar hanyalah semu. Yang tersisa hanyalah jiwa yang berserah. Berserah diri secara total.

Ada pesan mendalam dalam kesetaraan ihram yang menampar sisi elitis dalam diri kita. Ihram mendidik bahwa haji adalah tempat menyatunya umat, bukan hanya secara ritual, tetapi juga secara sosial dan moral.

Maka ketika usai haji seseorang masih merasa lebih tinggi dari yang lain, atau lebih suci dari yang belum berangkat, bisa jadi ia hanya pulang membawa gelar, bukan hikmah. Bergelar haji, namun kelakuan dan kebiasaannya tidak mencerminkan ketertundukan sejati kepada Ilahi.

Kami teringat satu kalimat seorang sahabat Nabi: “Barang siapa pulang dari haji tapi tidak berubah hidupnya, maka ia hanya jalan-jalan ke padang pasir.”

Kalimat ini menohok sekaligus menyadarkan. Haji sejatinya adalah transformasi, bukan seremoni. Jika pulang dari Makkah seseorang masih sama keras hatinya, sama liciknya, sama zalimnya, maka barangkali yang ia lakukan hanyalah wisata rohani—bukan perjalanan suci.

Karena itu, kita perlu menata ulang makna haji dalam kesadaran umat. Bahwa haji bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi juga menumbuhkan kemuliaan.

Haji adalah momen pulang ke dalam. Apa maksudnya? Pulang ke jati diri sejati sebagai hamba. Bukan pulang membawa oleh-oleh, tetapi pulang membawa cahaya. Pulang dengan kepribadian baru yang lebih jujur, sabar, santun, dan rendah hati.

Dan jangan salah, haji juga bisa gagal. Bukan berarti gagal karena batal berangkat, tetapi gagal karena tidak membawa perubahan. Tidak semua haji menjadi mabrur.

Maka mari kita doakan saudara-saudara kita yang berangkat tahun ini agar diberikan kekuatan lahir dan batin untuk meraih kemabruran yang sejati.

Bagi yang belum berangkat, bersyukurlah juga. Karena rindu yang tulus—meski belum berwujud perjalanan—tetap bernilai mulia. Siapa tahu, panggilan itu sedang menanti waktu terbaiknya. Jangan pernah remehkan kekuatan doa. Karena panggilan itu tak datang karena uang, tetapi karena cinta dan izin-Nya. (*)

*) Ulul Albab-Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI

Leave a Reply