

AMPHURI.ORG, JAKARTA–Menjalankan ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan puncak spiritual dalam kehidupan seorang muslim. Karena itu, negara dan para petugas haji dituntut menghadirkan pelayanan terbaik, khususnya bagi jamaah haji lansia dan jamaah haji perempuan.
“Ibadah haji adalah puncak dari kehidupan setiap muslim. Terutama bagi jamaah lansia, bisa jadi ini adalah perjalanan terakhir mereka. Karena itu, mari kita berikan pelayanan yang terbaik,” tegas aktivis perempuan dan tokoh moderasi beragama, Alissa Wahid, saat memberikan pembekalan kepada peserta Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (Diklat PPIH) Arab Saudi Tahun 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, tantangan terbesar dalam melayani jamaah haji lansia bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga soal pendekatan dan pemahaman karakter. Petugas haji, tambahnya, harus mampu memosisikan diri sebagai pelayan yang sabar, memahami keterbatasan lansia, sekaligus cakap dalam memanfaatkan teknologi informasi.
“Teknologi informasi itu penting, tapi jangan dipaksakan kepada jamaah lansia. Daya tangkap mereka berbeda. Justru petugaslah yang harus menguasai teknologi itu untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi para lansia,” jelas Alissa.
Ia menekankan, aplikasi dan sistem digital seharusnya menjadi alat bantu bagi petugas, bukan beban tambahan bagi jamaah lanjut usia. Selain lansia, Alissa juga menyoroti pentingnya pelayanan yang sensitif terhadap kebutuhan jamaah haji perempuan. Ia mengapresiasi peningkatan jumlah petugas haji perempuan yang kini mencapai 30 persen.
“Saya senang sekali tahun ini petugas perempuan bertambah. Pada tahun 2022, jumlah pembimbing dan petugas perempuan masih sangat sedikit, padahal kebutuhan jamaah perempuan itu berbeda dengan laki-laki,” ungkapnya.
Alissa menegaskan, pemerintah perlu memastikan fasilitas bagi jamaah perempuan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka, mulai dari akomodasi hingga fasilitas sanitasi. Alissa pun berbagi pengalaman saat bertugas pada haji 2022, ketika di lapangan harus dilakukan improvisasi kebijakan, seperti pembagian waktu dan penggunaan kamar mandi laki-laki untuk perempuan karena keterbatasan fasilitas.
“Kebijakan-kebijakan spontan di lapangan itu seharusnya direspons secara sistematis, agar ke depan tidak lagi improvisasi, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem,” jelasnya.
Alissa kembali menegaskan bahwa menjadi petugas haji adalah amanah besar, terlebih ketika melayani jamaah lansia dan perempuan.
“Petugas haji harus menyiapkan diri, meluruskan niat, dan hadir sepenuh hati untuk melayani. Petugas adalah sumber rasa aman dan rasa nyaman bagi jamaah,” katanya.
Lebih lanjut, Alissa berharap, dengan pelayanan yang penuh empati dan sistem yang semakin ramah, ibadah haji para jamaah terutama lansia dan perempuan dapat berlangsung lebih lancar, khusyuk, dan bermakna.
“Ketika jamaah merasa aman dan nyaman, di situlah pelayanan haji benar-benar bernilai ibadah,” tutupnya. (hay)