

AMPHURI.ORG, JAKARTA–Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochammad Irfan Yusuf memastikan seluruh tahapan strategis penyelenggaraan haji tahun 2026 terus berlangsung sesuai rencana. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) telah menyelesaikan sejumlah langkah penting untuk memastikan layanan transportasi udara, asrama haji, hingga operasional embarkasi dan debarkasi berjalan lebih awal dan terukur.
“Seiring dengan rangkaian persiapan yang terus berlangsung, kami menyampaikan perkembangan terkait langkah-langkah strategis yang menjadi bahan pembahasan bersama,” ujar Menhaj yang akrab disapa Gus Irfan, saat Rapat Kerja dengan Komisi VIII DPR RI, di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Gus Irfan menjelaskan bahwa penyediaan transportasi udara menjadi salah satu prioritas utama dalam tahapan penyelenggaraan haji. Tahun ini, proses seleksi maskapai dilakukan lebih awal dan ditetapkan melalui Keputusan Menteri Haji dan Umrah Nomor 18 Tahun 2025 per 5 November 2025.
Dari hasil evaluasi teknis dan operasional, dua maskapai ditunjuk sebagai penyelenggara penerbangan haji reguler, yakni Garuda Indonesia dan Saudia Airlines.
Untuk Garuda Indonesia, Gus Irfan menyebut akan melayani jamaah dari 10 embarkasi: Aceh (14 kloter), Medan (17 kloter), Padang (14 kloter), Jakarta (33 kloter), Solo (80 kloter), Yogyakarta (26 kloter), Banjarmasin (19 kloter), Balikpapan (16 kloter), Makassar (43 kloter), dan Jakarta tambahan (15 kloter). Adapun total jamaah yang diangkut Garuda Indonesia berjumlah 101.954 orang, dan petugas 552 orang, dengan total 277 kloter.
Kemudian, lanjut Gus Irfan, Saudia Airlines akan melayani embarkasi: Batam (25 kloter), Palembang (16 kloter), Jakarta (10 kloter), Lampung (13 kloter), Jakarta–Jawa Barat (28 kloter), Kertajati–Jawa Barat (40 kloter), dan Surabaya (116 kloter). Total jamaah yang akan diangkut Saudia mencapai 101.966 orang, serta 494 petugas, dengan total 248 kloter.
“Jika digabungkan, kedua maskapai akan mengangkut 203.920 jamaah dan 1.046 petugas, atau total 204.366 orang dalam 525 kloter,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Kemenhaj juga memastikan bahwa permohonan slot waktu penerbangan telah diajukan oleh kedua maskapai kepada General Authority of Civil Aviation (GACA) Arab Saudi. Langkah ini, menurut Gus Irfan, krusial untuk memastikan kelancaran jadwal keberangkatan dan kepulangan jamaah.
Tak hanya itu, penyusunan permintaan slot waktu juga disesuaikan dengan masa tinggal jamaah yang kini diatur rata-rata 38-40 hari, lebih singkat dari sebelumnya yang mencapai 41 hari. Penyesuaian ini, kata Gus Irfan, dilakukan tanpa penambahan armada baru, serta tetap mengikuti ketentuan operasional otoritas penerbangan Arab Saudi.
“Pendekatan ini diharapkan menjaga efisiensi operasional sekaligus memastikan keberangkatan dan pemulangan jamaah berjalan sesuai waktu operasional haji,” pungkasnya. (hay)