

AMPHURI.ORG, JAKARTA–Pemerintah Arab Saudi di bawah kepemimpinan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud melakukan perluasan Masjidil Haram besar-besaran. Kini, luas Masjidil Haram sekitar 1,5 juta meter persegi atau 750 kali lipat dari era Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW).
Masjidil Haram yang dikenal saat ini, dulunya hanya bangunan Ka’bah dan halaman tanpa batas. Tidak ada bangunan masjid yang mengelilinginya melainkan bersentuhan langsung dengan rumah-rumah penduduk.
Seperti dikutip detikhikmah, dalam laporan Presidensi Umum Urusan Dua Masjid Suci yang dilansir Arab News menyebutkan, kondisi Ka’bah dikelilingi rumah penduduk sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS) sampai khalifah kedua, Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu (RA).
Ketika kekuasaan Islam di bawah Khulafaur Rasyidin, Khalifah Umar bin Khattab RA membebaskan lahan sekitar Ka’bah dengan membeli rumah-rumah penduduk. Sang Khalifah kemudian memerintahkan pembangunan tembok setinggi hampir 2 (dua) meter di sekeliling Ka’bah. Area tawaf menjadi lebih luas.
Apa yang dilakukan Khalifah Umar RA itu kemudian dikenal dengan perluasan Masjidil Haram yang pertama dalam sejarah. Menurut keterangan dalam buku Makkah: Kota Suci yang Dirindukan Ummat karya Rizem Aizid, perluasan ini terjadi pada 17 Hijriah. Sebelum Umar RA, tak ada perubahan luas halaman Ka’bah.
Bangunan yang mengelilingi Ka’bah baru didirikan pada era Khalifah Utsman bin Affan RA, sebagai pengganti Umar bin Khattab RA. Disebutkan dalam Histori 72 Masjid di Tanah Suci dalam Khazanah Sunnah Nabi susunan Brilly El-Rasheed, Khalifah Utsman bin Affan RA memerintahkan pembangunan sekitar Ka’bah yang kemudian disebut sebagai bangunan Masjidil Haram. Utsman RA memperluas dan memperbesarnya pada 26 Hijriah.
Seiring bergantinya kepemimpinan di Mekkah, Masjidil Haram mengalami perluasan sampai hari ini. Beberapa orang yang berjasa dalam perluasan ini antara lain Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur, Khalifah Muhammad Al-Mahdi, Khalifah Al-Mu’tadhid Al-‘Abbasi, Khalifah Al-Muqtadir Al-‘Abbasi, baru kemudian Malik (Raja) ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman Alu Sa’ud (pendiri dan raja pertama Arab Saudi), dilanjutkan Malik Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz dan raja-raja setelahnya hingga Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud.
Raja Salman melakukan perluasan besar-besaran yang dikenal dengan perluasan ketiga Masjidil Haram. Kepala Eksekutif Otoritas Umum untuk Perawatan Dua Masjid Suci Ghazi Al-Shahrani mengatakan proyek perluasan ini menjadi yang terbesar dalam sejarah Dua Masjid Suci. Dia mencatat perluasan mencakup hampir 1,5 juta meter persegi.
“Perluasan akan mencakup hampir 1,5 juta meter persegi, menampung hingga 1,25 juta jamaah secara bersamaan untuk salat dan memungkinkan 108.000 jamaah per jam untuk tawaf,” kata Al-Shahrani dilansir SPA, Rabu (12/11/2025).
Perluasan Masjidil Haram ketiga ini dibahas dalam sebuah panel di Konferensi dan Pameran Haji ke-5 di Jeddah Superdome pada 9-12 November 2025.
Proyek perluasan Masjidil Haram di era Raja Salman ini juga mencakup sistem keamanan dan keselamatan, proyek pendingin udara, dan 396 paket sistem kelistrikan, mekanik, dan sipil dengan sebagian besar operasi dan pemeliharaan ditangani tim otoritas.
“Otoritas sedang berupaya memastikan perluasan tersebut dapat menampung jumlah peziarah dan jamaah secara maksimal, sekaligus menjaga keselamatan mereka selama menjalankan ibadah secara maksimal,” tegas Al-Shahrani.
Perbandingan Luas
Masjidil Haram kini jauh lebih luas dibandingkan zaman para nabi dan khalifah. Di era Nabi Muhammad SAW pun tak ada catatan spesifik yang menyebut luas area Masjidil Haram –yang dulu masih Ka’bah dan halamannya. Namun, sejumlah sumber, salah satunya dalam buku Haji Umroh Bukan Mimpi susunan Ustadz Yusuf Mansur dkk, memperkirakan luasnya sekitar 1.490-2.000meter persegi.
Menurut laporan Kepresidenan Umum Dua Masjid Suci, di era Kekhalifahan Abbasiyah, luas Masjidil Haram mencapai 12.512meter persegi. Perluasan ini dilakukan oleh khalifah Abbasiyah ketiga, Muhammad Al-Mahdi pada 783 M, dan dilanjutkan putranya.
Selama 180 tahun berikutnya, tidak ada perubahan besar pada Masjidil Haram melainkan pekerjaan restorasi saja. Ukuran masjid bertambah ketika pemerintahan Ottoman, menjadi 28.003meter persegi.
Perubahan besar terjadi pada era Saudi. Raja-raja Saudi memelihara situs suci tersebut dan memperluasnya. Renovasi total terjadi pada 1926. Ini mencakup pemasangan marmer di seluruh lantai dan membangun tenda di mataf untuk melindungi jamaah.
Pada 14 September 1988, Raja Fadh meletakkan batu fondasi untuk perluasan Masjidil Haram terbesar dalam 14 abad. Proyek ini meningkatkan luas Masjidil Haram menjadi 356.000meter persegi dan mampu menampung hingga 1,5 juta jamaah.
Raja Arab Saudi keenam, Raja Abdullah, turut memprakarsai proyek perluasan lainnya di Masjidil Haram. Kapasitas mataf ditingkatkan dari sekitar 50.000 orang per jam menjadi lebih dari 130.000 per jam. Selain itu, area terbuka diperluas menjadi 750.000meter persegi.
Setelah Raja Salman naik tahta, ia melanjutkan proyek perluasan area mataf hingga luar bangunan utama, termasuk alun-alun dan terowongan pejalan kaki. Kini, luas Masjidil Haram mencapai 1,5 juta meter persegi atau sekitar 750 kali lipat dari era Nabi Muhammad SAW jika menggunakan asumsi 2.000meter persegi saat itu. (hay)