Pamitan, Ditjen PHU Rilis Buku Memori Kolektif 75 Tahun Kemenag Kelola Haji
December 16, 2025
Kemenhaj Kontrak Garuda Angkutan Penerbangan Haji Selama Tiga Tahun
December 17, 2025

Temukan Bahagia dalam Ketenangan

Oleh: Ulul Albab

ZAMAN sekarang, bahagia sering tampak seperti jadwal yang padat. Agenda di kalender tak tersisa. Grup WhatsApp ramai. Banyak undangan berdatangan. Namun ironisnya, banyak orang justru kelelahan di tengah semua itu.

Kita sekarang hidup di masa ketika sibuk dianggap sukses, dan diam sering disalahpahami sebagai kalah. Padahal tidak semua yang bergerak itu maju. Ada juga yang bergeraknya sekadar berputar-putar, lalu lelah sendiri.

Disadari atau tidak, media sosial kini malah memperparah keadaan. Bahagia dipajang seperti etalase toko: “senyum lebar, caption panjang, emoji berderet.” Namun, seperti etalase toko, yang terlihat hanyalah bagian depan. Bagian dalamnya, siapa yang tahu?

Karena di balik foto yang ceria, tak jarang ada hati yang tegang. Seperti rumah yang lampunya menyala terang, tetapi penghuninya sulit tidur. Gelisah.

Tanpa disadari, kadang kita jadi terbiasa mengejar bahagia dengan suara keras. Padahal bahagia yang paling tahan lama justru sering datang dengan suara perlahan, bahkan sering tanpa suara.

Ketenangan

Islam sejak awal tidak mendefinisikan bahagia sebagai kegembiraan yang meledak-ledak. Islam berbicara tentang ketenangan—sesuatu yang hari ini justru semakin langka. Al-Qur’an menyebutnya uma’ninah: suasana ketika hati tidak ikut panik meski keadaan berubah.

Bunyi ayatnya begini: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” Ayat ini terasa sederhana, tetapi efeknya sangat dalam dan luar biasa. Ia seperti tombol “mute” di tengah kebisingan hidup. Tidak percaya? Cobalah berzikir, mengingat Allah.

Tenang bukan berarti hidup tanpa target. Tenang adalah kemampuan untuk tidak terburu-buru menilai diri sendiri hanya karena hidup orang lain terlihat lebih cepat, lebih kaya, atau lebih diakui.

Banyak orang hari ini kelelahan karena membandingkan —mengukur hidup dengan standar orang lain. Seperti sedang mengikuti lomba yang tidak pernah kita daftari sebagai peserta. Lalu heran mengapa tidak mendapat piala meski merasa sudah berlari kencang. Paham, kan, maksudnya?

Orang yang tenang adalah orang yang tidak sibuk menjelaskan dirinya. Ia tidak merasa perlu membela pilihan hidupnya di setiap percakapan. Karena ia tahu: yang paling perlu diyakinkan bukan orang lain, melainkan hatinya sendiri.

Tenang juga bukan sikap pasrah tanpa usaha. Justru dari ketenangan itulah lahir kerja yang lebih fokus, keputusan yang lebih jujur, dan relasi yang lebih sehat. Orang tenang jarang bersikap impulsif. Ia melangkah, bukan meloncat. Juga bukan meledak-ledak.

Di dunia yang semakin bising ini, mungkin bahagia hari ini sesederhana ini: tidak iri melihat keberhasilan orang lain, tidak panik melihat keterlambatan diri sendiri, dan tidak lupa pulang ke rumah, pulang ke hati, dan pulang ke Tuhan.

Karena sesungguhnya, bahagia bukan tentang seberapa ramai hidup kita dibicarakan, tetapi seberapa tenang kita menjalaninya ketika tidak ada yang melihat dan membicarakan.

Alā biżikrillāhi taṭma’innul qulūb: selamat selalu berdzikir dan selamat selalu berbahagia. (*)

~ Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan DPP AMPHURI

Leave a Reply