

AMPHURI.ORG, JAKARTA–Penasehat Khusus Presiden bidang Haji, Muhadjir Effendy menyampaikan pentingnya Bandara Taif sebagai destinasi haji. Pasalnya, dengan menggunakan Bandara Taif sebagai destinasi haji, maka Indonesia akan mendapat 27 slot penerbangan per harinya. Dengan demikian, pemberangkatan jamaah haji Indonesia tidak perlu 30 hari seperti selama ini.
“Ada multiplier effect yang signifikan jika Indonesia mendapat 27 slot per hari yaitu mempengaruhi masa tinggal jamaah haji di Arab Saudi,” kata Muhadjir saat memberikan materi di Musyawarah Nasional XI Majelis Ulama Indonesia di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta, pada Jumat (21/11/2025), seperti dilansir laman resmi Kantor Penasehat Khusus Presiden bidang Haji kantorhatsushaji.go.id pada Senin (24/11/2025).
Menurutnya, jika masa tinggal bisa ditekan menjadi 30 atau 32 hari, maka terjadi penghematan biaya yang signifikan. Setidaknya, ada penghematan sekitar Rp 15,8 juta per jamaah atau Rp 3,2 triliun untuk semua jamaah.
“Saya sudah bicara dengan otoritas bandara Taif, mereka sangat antusias jika Indonesia berminat untuk menjadikan bandara Taif sebagai destinasi haji. Bahkan mereka sanggup memperluas terminal kedatangan internasionalnya yang hanya bisa menampung sekitar 500 orang. Apa yang diminta Indonesia kami siapkan,” katanya.
Muhadjir menjelaskan, di Taif ada dua runway untuk pesawat berbadan lebar yang mengangkut jamaah haji. Memang ada kendala karena berada di ketinggian maka udaranya tipis. Ini menjadi masalah ketika take off.
“Tidak ada masalah jika landing. Namun untuk take off penumpangnya harus dikurangi,” ungkapnya.
Menurutnya, suhu di Taif yang dingin juga baik untuk adaptasi jamaah Indonesia sebelum ke Mekkah yang terik. Selain itu, jarak Taif ke Mekkah yang relatif dekat juga menguntungkan jamaah haji. Cukup waktu 47 menit untuk sampai ke Mekkah.
“Memang ada jalan yang berkelok-kelok namun ada jalan yang lurus. Seperti jalan tol. Hanya 47 menit saya saat berkunjung ke sana,” ungkapnya.
Selain itu, kata Muhadjir, di Taif ada miqat atau batas waktu dan tempat dimulainya ibadah haji dan umrah, yang legendaris.
“Namanya miqat Qarn al Manazil. Ini bukan miqat-miqatan, tetapi termasuk miqat utama,” katanya.
Miqat Qarn al-Manaazil dikenal juga sebagai miqat al-Sail al-Kabeer terletak di dekat Taif, sekitar 75–80 kilometer di timur Mekkah. Titik ini berfungsi sebagai Miqat bagi para peziarah yang datang dari Najd atau melewati Taif menuju Mekkah. Ini adalah salah satu dari lima Miqat utama yang ditetapkan Nabi Muhammad SAW untuk memasuki ihram.
Sementara Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf yang akrab disapa Gus Irfan, dalam uraiannya menyoroti dam atau sanksi atau denda yang harus dibayar saat seseorang menunaikan ibadah haji. Karena jamaah haji Indonesia kebanyakkan menunaikan haji Tamattu’ maka harus membayar dam berupa sembelihan (hadyu). Ada sekitar 200 ribu jamaah haji Indonesia harus membayar dam satu ekor kambing.
“Untuk hal ini kami belum melangkah apa-apa karena menunggu fatwa MUI apakah dam bisa disembelih di dalam negeri,” kata Gus Irfan.
Jika itu dibolehkan maka akan menggerakkan perekonomian dalam negeri juga memberdayakan industri ternak di Indonesia.
“Bayangkan 200 ribu kali 2,5 juta rupiah, maka bergulir uang 500 milyar rupiah,” katanya. (hay)