

AMPHURI.ORG, JAKARTA–Pemerintah Indonesia tengah mengebut pembenahan sistem antrean dan peningkatan mutu pelayanan haji. Langkah ini bukan sekadar respons terhadap panjangnya daftar tunggu, tapi juga bagian dari ambisi besar menjadikan Indonesia sebagai model penyelenggaraan haji terbaik di dunia.
Demikian disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI, Ansari, dalam acara Jagong Masalah Haji dan Umrah (Jamarah) Angkatan XI di Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (15/10/2025).
“Selain karena memang telah menjadi komitmen. Saat ini bidang penyelenggaraan haji sudah ditangani oleh kementerian khusus haji dan umrah,” ujar Ansari.
Menurutnya, Presiden Prabowo dan Menhaj Gus Irfan menaruh harapan besar agar Indonesia bisa menjadi contoh dunia dalam tata kelola ibadah haji. Dengan berdirinya kementerian baru yang secara fokus mengurusi haji dan umrah, perencanaan dan pelaksanaan diharapkan semakin tertata.
“Kami di Komisi VIII DPR tentu sangat berkepentingan agar penyelenggaraan haji terus semakin baik. Karena itu, fungsi pengawasan akan kami optimalkan,” ujarnya.
Ansari juga berharap masa transisi kelembagaan antara Kementerian Agama dan Kementerian Haji dapat berlangsung efektif dan efisien, apalagi pelaksanaan ibadah haji 2026 sudah semakin dekat.
Sementara itu, Anggota DPD Fahira Idris menilai langkah pemerintah menerapkan skema baru pembagian kuota haji pada 2026 adalah terobosan penting menuju sistem antrean yang lebih adil.
“Namun, keadilan antrean tidak cukup diwujudkan dengan pembagian kuota semata. Melainkan juga membutuhkan strategi pendukung yang menyeluruh, transparan, dan berorientasi pada perlindungan jamaah,” ujar Fahira di Jakarta.
Di sisi lain, pemerintah Arab Saudi telah menetapkan kuota haji Indonesia untuk 2026 tetap berjumlah 221.000 jamaah, sama seperti tahun sebelumnya. Meski belum ada penambahan, Indonesia berharap sistem baru ini dapat memastikan proses pendaftaran dan keberangkatan jemaah menjadi lebih transparan, efisien, dan manusiawi. (hay)