Oct 25, 2026 Editorial • 19 views
AMPHURI.ORG, BANTUL–Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mendorong pemanfaatan empty leg penerbangan haji untuk membuka peluang kunjungan wisatawan Timur Tengah ke Indonesia. Peluang tersebut menjadi salah satu topik dalam sesi Tourism Talk pada Yogya Expo UMKM dan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah 2026 yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC), Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (25/10/2026).
Direktur Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Tri Hidayatno, menjelaskan bahwa empty leg merujuk pada penerbangan pulang yang berpotensi memiliki kursi kosong setelah mengantarkan jamaah haji ke Tanah Suci. Kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk mendatangkan wisatawan dari Timur Tengah apabila didukung kesiapan maskapai, destinasi, dan industri pariwisata.
“Pemanfaatan empty leg perlu dilihat sebagai peluang untuk menciptakan arus perjalanan dua arah. Penerbangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji juga dapat membuka kesempatan bagi wisatawan Timur Tengah untuk mengenal destinasi wisata Indonesia,” ujar Tri.
Menurutnya, potensi pasar tersebut didukung karakteristik wisatawan Timur Tengah yang memiliki rata-rata pengeluaran sebesar US$1.726 dengan lama tinggal 13 hari. Sebagai perbandingan, wisatawan Asia Tenggara tercatat memiliki rata-rata pengeluaran US$661 dengan lama tinggal empat hari. Data ini menunjukkan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui penawaran produk wisata yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Tri menjelaskan, Yogyakarta International Airport (YIA) menjadi salah satu pintu masuk yang berpotensi mendukung pengembangan kunjungan wisatawan Timur Tengah ke Yogyakarta dan sekitarnya. Bandara ini mampu melayani pesawat berbadan lebar untuk penerbangan jarak jauh (wide-body long-haul).
Potensi tersebut, kata Tri, didukung pengalaman embarkasi haji DIY yang telah melayani 26 kloter dengan total 9.320 jamaah. Selain itu, DIY memiliki model embarkasi berbasis hotel yang pertama di Indonesia, yang menunjukkan adanya dukungan infrastruktur dan layanan dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Pengembangan pasar wisatawan Timur Tengah memerlukan promosi yang terarah ke negara-negara potensial, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Penjajakan kerja sama dengan agen perjalanan di negara-negara tersebut juga diperlukan untuk menghubungkan calon wisatawan dengan paket perjalanan yang tersedia di Indonesia.
Lebih lanjut, Tri menekankan bahwa peluang penerbangan perlu diikuti kesiapan produk dan layanan wisata. Paket yang ditawarkan dapat menggabungkan pengalaman alam, budaya, dan layanan premium, sekaligus mempertimbangkan kebutuhan wisatawan terhadap makanan bersertifikat halal, layanan berbahasa Arab, serta fasilitas yang mendukung kenyamanan keluarga.
“Peluang ini perlu diterjemahkan menjadi produk wisata yang siap dipasarkan. Kolaborasi antara maskapai, pengelola bandara, pemerintah daerah, dan pelaku industri pariwisata menjadi penting agar konektivitas penerbangan dapat terhubung dengan paket wisata dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan,” jelas Tri.
Selain pengembangan produk dan promosi, kata Tri, realisasi peluang empty leg membutuhkan pemetaan kapasitas kursi dan jadwal penerbangan sesuai musim haji. Koordinasi lintas pihak juga diperlukan untuk memastikan ketersediaan penerbangan selaras dengan kesiapan destinasi, layanan, dan mekanisme penjualan paket wisata.
Melalui Tourism Talk dalam Yogya Expo 2026, Kemenhaj mendorong kolaborasi antara sektor haji, penerbangan, dan pariwisata untuk memperluas manfaat ekonomi di dalam negeri. Pemanfaatan peluang tersebut diharapkan dapat membuka pasar baru bagi industri pariwisata sekaligus menghadirkan dampak ekonomi bagi pelaku usaha dan masyarakat. (hay)
No comments yet. Be the first to comment.
May 25, 2026 • 55,435 views
Nov 21, 2025 • 33,583 views
May 27, 2026 • 12,555 views
Jun 01, 2026 • 11,569 views
Oct 26, 2026 • 23 views
Oct 26, 2026 • 3 views
Oct 25, 2026 • 16 views
Oct 23, 2026 • 17 views