Logo

Jamaah Lansia Bukan Penumpang Biasa

Sep 17, 2026 Editorial • 28 views

Oleh Ulul Albab

—ARTIKEL ini ditujukan kepada pemerintah, asosiasi, Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), petugas lapangan, keluarga, dan kita semua yang menitipkan orang-orang lanjut usia untuk menunaikan umrah. Perlu ditulis karena jamaah lansia masih terlalu sering diperlakukan seperti penumpang biasa: mengikuti jadwal yang sama, berjalan dengan kecepatan yang sama, dan dianggap mampu menghadapi kelelahan yang sama. Padahal, tubuh mereka membawa keterbatasan yang tidak selalu terlihat.

Keinginan berangkat ke Tanah Suci sering justru semakin kuat ketika usia bertambah. Ada rasa waktu yang tidak lagi panjang. Ada kerinduan yang telah disimpan bertahun-tahun. Karena itu, sebagian jamaah memilih tetap berangkat meskipun langkahnya mulai pelan, penglihatannya berkurang, atau tubuhnya bergantung pada obat-obatan tertentu.

Mereka tidak meminta diperlakukan sebagai beban. Mereka hanya membutuhkan pelayanan yang memahami keadaan.

Perlindungan harus dimulai sebelum keberangkatan melalui pemeriksaan kesehatan yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar mendapatkan surat keterangan, tetapi mengenali kemampuan fisik, penyakit yang diderita, obat yang dikonsumsi, serta kemungkinan risiko selama penerbangan dan di Tanah Suci.

Data tersebut kemudian menjadi dasar pengelompokan risiko. Jamaah yang relatif mandiri tentu berbeda kebutuhannya dengan mereka yang mudah lelah, memiliki gangguan jantung, diabetes, keterbatasan gerak, atau penurunan daya ingat. Perlakuan yang sama kepada kondisi yang berbeda bukanlah keadilan.

Obat pribadi harus dipersiapkan dengan benar. Jenis, dosis, waktu konsumsi, dan cara penyimpanan perlu dicatat. Persediaannya harus cukup, tetapi tidak disimpan seluruhnya dalam satu tas. Sebab jika bagasi terlambat atau hilang, jamaah tetap mempunyai obat yang diperlukan.

Kursi roda adalah alat bantu agar jamaah dapat beribadah tanpa memaksakan tubuh. Ketersediaannya harus dipastikan sejak bandara, hotel, perjalanan antarkota, hingga pelaksanaan ibadah. Petugas perlu mengetahui siapa yang membutuhkannya, bukan baru mencarinya setelah jamaah jatuh kelelahan.

Jadwal perjalanan juga harus lebih manusiawi. Tidak semua tempat harus dikunjungi. Tidak setiap agenda harus dipaksakan. Waktu istirahat, jarak berjalan, cuaca, kepadatan, dan akses menuju toilet perlu diperhitungkan. Tujuan perjalanan adalah beribadah, bukan menuntaskan sebanyak mungkin daftar kunjungan.

Risiko lain adalah jamaah terpisah dari rombongan. Jamaah lansia perlu membawa kartu identitas yang memuat nama, hotel, nomor petugas, informasi kesehatan penting, dan kontak keluarga. Harus ada titik pertemuan, prosedur pencarian, serta petugas yang segera bergerak tanpa menunggu terlalu lama.

Keluarga pun harus terlibat secara jujur. Jangan menyembunyikan penyakit karena takut keberangkatan dibatalkan. Informasi yang disembunyikan dapat membahayakan orang yang justru ingin kita lindungi.

Pemerintah dan asosiasi perlu mendorong standar pelayanan khusus jamaah lansia. Bukan untuk mempersulit PPIU, tetapi agar sejak awal harga paket, jumlah petugas, fasilitas kesehatan, dan ritme perjalanan disusun sesuai kebutuhan nyata.

Menjadi tua bukan kesalahan. Berjalan lambat bukan alasan untuk ditinggalkan. Di Tanah Suci, mungkin merekalah yang paling sering tertinggal beberapa langkah dari rombongan. Namun, boleh jadi doa mereka justru berjalan paling dahulu menuju langit.

Karena itu, jangan hanya memastikan jamaah lansia sampai ke Makkah. Pastikan mereka beribadah dengan aman, diperlakukan dengan sabar, dan pulang ke rumah dengan kehormatan yang tetap terjaga. (*)

~ Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI

Comments

No comments yet. Be the first to comment.

Leave a Comment

Your email will not be published.
Your comment will appear after admin approval.