Kementerian Haji dan Umrah Lantik 162 Pejabat Pelayanan
February 25, 2026
Progres Pemvisaan Jamaah Haji Reguler Capai 162 Ribu, Target Rampung Awal Maret
February 26, 2026

Puasa dan Lisan: Menjaga Kata di Era Media Sosial

Oleh Ulul Albab

Dulu, lisan adalah alat utama komunikasi. Tapi saat ini, lisan sudah menjelma menjadi teks, komentar, status, dan unggahan, yang jejaknya jauh lebih panjang dan dampaknya jauh lebih luas. Ironisnya, di era ketika manusia mengaku semakin religius, ujaran justru semakin kasar. Media sosial sering berubah menjadi arena caci maki, penghakiman, dan saling menjatuhkan, bahkan di bulan Ramadhan.

Puasa datang untuk mengoreksi itu semua. Bukan hanya untuk menahan lapar, tetapi mendidik lidah dan jari agar tidak latah. Rasulullah SAW menegaskan dengan sangat gamblang: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini harusnya mengejutkan sekaligus menyadarkan kita. Bahwa puasa yang tidak membentuk akhlak lisan adalah puasa yang kehilangan ruhnya. Menahan lapar tanpa menjaga kata hanya akan melatih tubuh, bukan jiwa. Al-Qur’an pun memberikan rambu-rambu yang jelas tentang etika berbicara: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. al-Ahzab: 70)

Perkataan yang benar (qaulan sadida) bukan hanya soal harus faktual, tidak hoax, tetapi juga soal niat dan dampak. Benar tetapi menyakiti bukanlah cerminan iman yang matang. Karena kebenaran dalam Islam selalu dibungkus dengan hikmah. Media sosial sering mematikan pertimbangan. Jari lebih cepat daripada hati. Akibatnya, banyak orang berkata-kata tanpa sempat bertanya: apakah ini perlu, apakah ini baik?

Ramadhan mengajarkan kita seni diam yang bermakna. Diam bukan karena takut, tetapi karena bijak. Tidak semua hal perlu dikomentari, tidak semua perbedaan perlu diserang. Al-Qur’an mengajarkan standar komunikasi yang luhur: “Dan katakanlah kepada hamba2-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. al-Isra’: 53)

Ayat ini mengandung pesan mendalam: jika ada beberapa pilihan kata, pilihlah yang paling baik, bukan yang paling keras atau paling viral.

Menjaga lisan juga berarti menjaga hati orang lain. Ujaran yang kita anggap sepele bisa menjadi luka panjang bagi orang lain.

Dan luka batin, seperti telah kita bahas di episode sebelunya, tidak selalu tampak di permukaan.

Puasa mendidik kita untuk melatih diri memperlambat reaksi. Ketika emosi naik, puasa mengingatkan: “Awas kita sedang berpuasa, berlatih mengendalikan diri.”

Ketika ingin membalas komentar pedas, puasa mengajak kita merenung: “Apakah yang akan kita lakukan ini bermanfaat atau justru membawa laknat?”

Akhlak lisan adalah cermin kedewasaan iman. Orang yang imannya matang tidak sibuk mengoreksi orang lain dengan nada merendahkan. Ia memilih kata yang mencerahkan, bukan yang membakar.

Menjaga lisan juga berarti menahan diri dari menyebarkan kabar yang belum jelas, hoaks, fitnah. Al-Qur’an mengingatkan dengan sangat keras: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. al-Isra’: 36)

Di era banjir informasi ini, kehati-hatian adalah bentuk ibadah. Tidak ikut menyebarkan keburukan adalah amal saleh. Ramadhan ingin membentuk umat yang tutur katanya menenangkan, bukan mengeruhkan. Umat yang hadir dengan bahasa yang menyembuhkan, bukan melukai. Karena kata-kata adalah doa yang kita lepaskan ke dunia.

Jika Episode 1-6 membersihkan jiwa, dan Episode 7 menumbuhkan empati, maka Episode 8 ini menegaskan bahwa empati itu diuji melalui cara kita berbicara. Karena iman tidak hanya soal sujud yang panjang, tetapi juga dalam komentar singkat yg kita pilih, atau yg kita tahan.

Renungan Hari Kedelapan

Di bulan Ramadhan ini, sebelum kita berkata-kata, atau mengunggah sesuatu di medsos, mari kita renungkan: Apakah kata-kata ini akan membawa kebaikan, atau hanya meluapkan ego yang menyakitkan orang? Karena dalam ajaran Islam, menjaga lisan adalah bagian dari menjaga iman.

~Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan DPP AMPHURI

Leave a Reply