Oct 14, 2026 Editorial • 14 views
Oleh: Ulul Albab--
KOPER sudah ditutup. Paspor sudah disiapkan. Keluarga sudah menitipkan doa. Lalu tiba-tiba datang kabar: penerbangan terganggu.
Bagi calon jamaah umrah, perang Yaman–Saudi pertanyaannya bukan lagi sekadar mengapa Houthi menyerang Saudi, melainkan: apakah perjalanan ke Tanah Suci akan terganggu?
Jawabannya perlu hati-hati. Kita harus membedakan keadaan di medan konflik, kondisi tempat ibadah, dan keamanan perjalanan menuju ke sana. Ketiganya berhubungan, tetapi tidak selalu mengalami keadaan yang sama.
Gangguan penerbangan sudah nyata. Reuters melaporkan penutupan Bandara Riyadh dijadwalkan berlangsung hingga 17 Oktober setelah serangan Houthi. Sejumlah maskapai juga membatalkan layanan ke beberapa kota Saudi. Tanggal tersebut merupakan jadwal yang diumumkan, bukan jaminan bahwa keadaan pasti pulih sesudahnya.
Gangguan bahkan menyentuh jalur Jeddah. Dalam pengumuman resminya, Etihad mencantumkan pembatalan sejumlah penerbangan Abu Dhabi–Jeddah pada 12–15 Oktober. Ini tidak berarti seluruh Bandara Jeddah ditutup. Tetapi menunjukkan bahwa perjalanan menuju kota yang menjadi pintu masuk jamaah pun dapat terdampak.
Lalu, apa yang mungkin terjadi berikutnya?
Menurut pembacaan saya atas perkembangan tersebut, ada tiga kemungkinan yang perlu diperhatikan.
Pertama, serangan balasan berlanjut. Saudi meningkatkan operasi udara dan perlindungan fasilitas penting. Houthi tetap menggunakan rudal serta drone untuk menekan. Analisis para pengamat yang dihimpun Associated Press menunjukkan bahwa Saudi mungkin lebih mengandalkan serangan udara dan dukungan kepada pasukan Yaman daripada membuka perang darat besar.
Jika pola ini berlangsung, perbatasan akan tetap tegang. Namun, dampaknya tidak berhenti di garis perbatasan. Serangan jarak jauh membuat bandara dan fasilitas ekonomi di wilayah lain ikut menghadapi risiko.
Kedua, konflik meluas. Kemungkinan ini meningkat apabila sasaran serangan bertambah atau pihak luar terlibat lebih jauh. Dampak bagi perjalanan dapat berupa pembatalan yang lebih luas, perubahan jalur, dan berkurangnya pilihan penerbangan.
Ketiga, tekanan militer disertai jalan perundingan. Pengalaman gencatan senjata 2022 dan pembicaraan Saudi–Houthi pada 2023 menunjukkan bahwa jalur diplomasi pernah bekerja mengurangi kekerasan. Tetapi pengalaman itu belum cukup untuk memastikan kapan ketegangan sekarang akan mereda.
Untuk sementara, persiapan layanan umrah perlu mengantisipasi gangguan yang berulang. Itu merupakan langkah berjaga-jaga, bukan ramalan bahwa perang pasti membesar.
Bagaimana dengan jamaah?
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI telah mengimbau jamaah yang berada di Saudi maupun yang akan berangkat untuk meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah juga meminta masyarakat mengikuti informasi resmi dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Dampak umrah paling jelas saat ini berada pada perjalanan. Jamaah bisa menghadapi penundaan keberangkatan, perubahan transit, atau kepulangan yang mundur. Jika masa tinggal bertambah, kebutuhan hotel, makanan, obat, dan pendampingan juga bertambah. Besarnya bergantung pada rute serta lamanya gangguan.
Karena itu, travel perlu memberikan informasi yang konkret: penerbangan mana yang masih dikonfirmasi, bagaimana pilihan penggantinya, siapa yang mendampingi jamaah, serta bagaimana biaya tambahan ditangani sesuai perjanjian. (*)
~Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI
No comments yet. Be the first to comment.
May 25, 2026 • 55,521 views
Nov 21, 2025 • 34,040 views
May 27, 2026 • 12,858 views
Jun 01, 2026 • 11,921 views
Nov 02, 2026 • 39 views
Nov 02, 2026 • 238 views
Oct 30, 2026 • 23 views
Oct 29, 2026 • 119 views