Logo

Umrah di Tengah Serangan Rudal: Mengawal Jamaah sampai Pulang

Oct 14, 2026 Editorial • 15 views

Oleh Ulul Albab--

SEBANYAK 51 jamaah asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sudah berada di Denpasar akhirnya kembali ke Lombok. Mereka menjadwalkan ulang keberangkatan. Sementara itu, 45 jamaah lainnya menunggu penerbangan lanjutan di Dubai dan harus menginap satu malam tambahan.

Keterangan tersebut disampaikan Ketua AMPHURI Bali Nusra, Zamroni Taufiq, kepada Suara NTB, pada Selasa (13/10/2026).

Sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI, saya melihat pengalaman itu sebagai pengingat bahwa: dampak konflik harus dibaca melalui keadaan jamaah. Bukan hanya melalui berita rudal dan pembatalan penerbangan.

Penelusuran sumber terbuka hingga 14 Oktober pagi menunjukkan beberapa fenomena. Ada yang menunda keberangkatan, menunggu saat transit, dan tetap melanjutkan perjalanan.

Di Bandara Soekarno-Hatta, keterangan pengelola bandara yang dimuat MINA menyebut 401 calon jamaah terdampak pembatalan penerbangan lanjutan pada 12 Oktober. Sebagian telah meneruskan perjalanan atau memilih jalur alternatif. Namun, status akhir seluruh jamaah belum dijelaskan secara lengkap.

Di sisi lain, Media Indonesia memberitakan keberangkatan 28 jamaah asal Tasikmalaya menuju Jeddah menggunakan Saudia pada 13 Oktober. Perjalanan umrah belum berhenti seluruhnya. Tetapi laporan keberangkatan belum membuktikan seluruh rombongan sudah tiba.

Perbedaan jalur ikut menentukan. Penerbangan pertama tersedia, tetapi sambungannya bisa dibatalkan. Pengumuman resmi Etihad, misalnya, mencantumkan pembatalan sejumlah penerbangan Abu Dhabi–Jeddah pada 12–15 Oktober. Itu bukan berarti seluruh penerbangan ke Jeddah dihentikan.

Bagaimana keselamatan jamaah Indonesia?

Dalam keterangan pada 13 Oktober, Kemenhaj menyatakan tidak ada jamaah umrah Indonesia menjadi korban serangan, berdasarkan komunikasi dengan Kemlu dan KBRI Riyadh. Pemerintah menyebut 37 jamaah tercatat menggunakan Bandara Riyadh dalam data hingga 11 Oktober.

Angka-angka tersebut bukan jumlah seluruh jamaah Indonesia di Saudi. Selamat dari serangan juga tidak berarti bebas dari gangguan perjalanan.

Di sinilah perhatian Litbang diarahkan. Kita membutuhkan pendataan yang menjawab: siapa berada di mana, siapa belum berangkat, siapa menunggu sambungan, dan siapa tertunda pulang. Kita juga perlu mengetahui bagaimana hotel, makanan, obat, serta pendampingan lansia dipenuhi. Termasuk siapa menanggung tambahan biaya dan bagaimana perubahan jadwal disepakati.

Dalam sumber yang ditelusuri, gambaran nasional yang lengkap belum tersedia. Angka berbagai daerah tidak bisa langsung dijumlahkan karena mungkin mencakup rombongan yang sama.

AMPHURI perlu mendorong anggota memperbarui data, menyampaikan informasi terverifikasi, dan menyiapkan pilihan penanganan bersama maskapai serta mitra Saudi. Pernyataan aman harus selalu disertai waktu, lokasi, dan dasar informasi.

Bagi saya, ukuran pelayanan dalam krisis bukan sekadar berhasil memberangkatkan. Tetapi adalah memastikan jamaah tetap terlindungi ketika rencana berubah. Setiap angka dalam laporan mewakili manusia yang membawa harapan. Mereka membutuhkan kepastian, pendampingan, dan jalan pulang. Itulah yang harus kita kawal bersama.

~Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI

Comments

No comments yet. Be the first to comment.

Leave a Comment

Your email will not be published.
Your comment will appear after admin approval.