Logo

Istithaah Kesehatan Jadi Faktor Utama Turunnya Angka Jamaah Haji yang Sakit

Jun 04, 2026 Redaksi • 18 views

AMPHURI.ORG, MEKKAH–Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mencatat adanya penurunan signifikan pada jumlah jamaah haji Indonesia yang mengalami sakit setelah melewati fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Kebijakan pengetatan syarat istita’ah kesehatan pra-keberangkatan dinilai menjadi faktor utama keberhasilan ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj RI, dr. Dani Pramudya, mengatakan, berdasarkan data Kemenhaj pada musim haji tahun 2026, tercatat sebanyak 210 jamaah haji yang mendapatkan perawatan medis pasca-Armuzna. Angka ini mengalami penurunan yang cukup drastis jika dibandingkan dengan periode yang sama pada musim haji tahun 2025 lalu, yang menyentuh angka 300 jamaah. Tren positif ini merupakan dampak langsung dari konsistensi pemerintah dalam menerapkan skrining kesehatan yang ketat.

“Alhamdulillah, dengan adanya implementasi peraturan istita’ah kesehatan ini, kami melakukan proses seleksi yang sangat ketat sejak di embarkasi. Pengetatan istita’ah ini terbukti efektif menekan angka kesakitan jamaah di Tanah Suci,” ujar dr. Dani di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah, Kamis (4/6/2026), seperti dikutip laman resmi Kemenhaj, haji.go.id.

Sebagai bagian dari komitmen menjaga keselamatan jamaah, dr. Dani mengungkapkan bahwa selama fase pemberangkatan di embarkasi, terdapat kurang lebih 300-an jamaah yang akhirnya dinyatakan tidak laik terbang. Langkah tegas membatalkan keberangkatan calon jamaah yang tidak lolos syarat istita’ah tersebut diambil demi mencegah risiko fatalitas kesehatan saat pelaksanaan ibadah di Arab Saudi.

Berdasarkan data dan kondisi terkini, dr. Dani memetakan dua jenis penyakit yang paling mendominasi jamaah haji yang dirawat tahun ini. Pertama adalah gangguan pernapasan atau sesak napas. Kasus ini mayoritas dialami oleh jamaah haji lanjut usia (lansia) akibat faktor kelelahan fisik. Selain itu, kondisi ini dipicu oleh adanya penyakit bawaan, seperti batuk kronis atau riwayat tuberkulosis (TBC).

“Kelelahan ekstrem membuat organ paru-paru jamaah yang rentan menjadi terganggu, sehingga menimbulkan sesak napas,” terangnya.

Selain itu, kata dr. Dani, penyakit yang paling sering ditemui adalah serangan jantung. Ia menjelaskan, penyakit ini umumnya menyerang jamaah yang memiliki riwayat komorbid atau penyakit penyerta terdahulu, seperti hipertensi (darah tinggi) dan diabetes (sakit gula), yang kemudian terpicu oleh beratnya aktivitas fisik selama prosesi haji.

Karena itu, Kemenhaj mengimbau kepada seluruh jamaah yang saat ini berada di Tanah Suci untuk tetap menjaga ritme aktivitas, membatasi kegiatan fisik yang tidak perlu, dan selalu berkonsultasi dengan tim medis kloter demi menjaga kondisi kesehatan hingga jadwal kepulangan ke Tanah Air. (hay)

Comments

No comments yet. Be the first to comment.

Leave a Comment

Your email will not be published.
Your comment will appear after admin approval.