Jun 17, 2026 Editorial • 15 views
Catatan Jelang Mukernas 2026: Umrah, Influencer, dan Masa Depan Industri Umrah
Oleh: Ulul Albab
SAYA tiba-tiba teringat sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana. Bahkan mungkin dianggap tidak terlalu penting oleh sebagian orang. Namun justru karena saya diberi amanah di bidang litbang, saya merasa pertanyaan ini layak direnungkan secara serius.
Pertanyaannya adalah: ketika sebuah travel menjadi terkenal karena seorang influencer, sebenarnya yang sedang dikenal masyarakat itu travelnya atau influencer-nya?
Pertanyaan ini menjadi menarik karena dalam dunia bisnis, merek atau brand adalah aset yang sangat mahal. Ia tidak lahir dalam semalam. Ia dibangun melalui pengalaman pelanggan yang konsisten, pelayanan yang baik, komunikasi yang jujur, dan reputasi yang dijaga bertahun-tahun.
Karena itu perusahaan-perusahaan besar di seluruh dunia rela menginvestasikan dana yang sangat besar untuk membangun merek mereka sendiri. Mereka ingin pelanggan percaya kepada institusi, bukan semata-mata kepada individu.
Namun era digital menghadirkan fenomena baru.
Banyak travel tumbuh sangat cepat karena didukung figur publik yang memiliki pengaruh besar di media sosial. Nama travel menjadi cepat dikenal. Promosi menjadi lebih mudah. Pasar menjadi lebih luas. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan dalam banyak kasus, strategi tersebut terbukti efektif.
Tetapi saya sering bertanya, apa yang sebenarnya sedang dibangun?
Apakah travel sedang membangun mereknya sendiri? Atau sebenarnya sedang meminjam merek yang dimiliki orang lain?
Saya membayangkan sebuah travel yang tidak memiliki satu pun influencer terkenal. Tetapi jamaahnya terus bertambah dari tahun ke tahun. Mengapa?
Karena pelayanannya memuaskan. Pembimbingnya kompeten. Keuangannya sehat. Komunikasinya transparan. Dan alumni jamaahnya menjadi duta yang paling dipercaya.
Bukankah pada hakikatnya jamaah yang puas adalah influencer terbaik?
Sebaliknya, saya juga membayangkan sebuah travel yang sangat dikenal karena figur tertentu. Lalu suatu hari figur itu berhenti bekerja sama. Atau algoritma media sosial berubah. Atau perhatian publik berpindah ke figur yang lain.
Apa yang tersisa?
Pertanyaan ini mungkin terasa tidak nyaman. Tetapi justru karena tidak nyaman, ia perlu dipikirkan.
Sebab ada perbedaan mendasar antara membangun merek dan meminjam merek.
Membangun merek berarti membangun kepercayaan terhadap perusahaan. Meminjam merek berarti bergantung pada kepercayaan yang dimiliki pihak lain.
Yang pertama melahirkan fondasi. Yang kedua sering kali hanya menghasilkan percepatan. Dan percepatan tanpa fondasi kadang justru berbahaya.
Ini bukan berarti travel tidak boleh bekerja sama dengan influencer. Silakan. Bahkan saya melihat influencer dapat menjadi mitra strategis yang sangat efektif dalam era digital seperti sekarang.
Namun jangan sampai kita terlalu sibuk membangun popularitas, sementara lupa membangun reputasi.
Jangan sampai kita terlalu fokus mengejar perhatian publik, tetapi kurang fokus menjaga kepercayaan jamaah.
Karena dalam industri umrah, yang membuat sebuah travel bertahan puluhan tahun bukanlah jumlah followers. Bukan pula jumlah tayangan video.
Yang membuat sebuah travel bertahan adalah amanah yang berhasil dijaga. Dan amanah tidak pernah bisa dipinjam. Amanah harus dibangun sendiri. (*)
~ Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI
No comments yet. Be the first to comment.
May 25, 2026 • 53,575 views
Nov 21, 2025 • 6,282 views
May 27, 2026 • 4,371 views
Nov 03, 2025 • 1,995 views
Jun 18, 2026 • 25 views
Jun 17, 2026 • 22 views
Jun 17, 2026 • 24 views
Jun 17, 2026 • 17 views