May 26, 2026 Hayat Amphuri
Oleh Ulul Albab
BAYANGKAN, Padang Arafah siang itu dipenuhi lebih dari seratus ribu manusia. Langit gurun terbuka luas. Matahari terasa sangat terik. Angin padang pasir bergerak pelan membawa debu dan keheningan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di hadapan lautan manusia itu, berdirilah seorang nabi yang wajahnya mulai dipenuhi tanda-tanda perpisahan. Tidak ada istana. Tidak ada singgasana. Tidak ada kemewahan dunia. Hanya seorang Rasul Allah yang berdiri, lalu berbicara kepada umat manusia dengan suara yang kelak menggema sepanjang zaman.
Banyak sahabat belum benar-benar sadar… bahwa itu adalah salah satu khutbah terakhir Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW). Tetapi langit Arafah hari itu seolah mengetahui: manusia paling mulia itu sedang menyampaikan pesan terakhirnya kepada dunia.
Dan hingga hari ini, lebih dari 1400 tahun kemudian, khutbah itu masih terasa hidup. Masih terasa relevan. Masih terasa seperti sedang berbicara langsung kepada hati manusia modern yang lelah, gaduh, dan kehilangan arah.
Rasulullah SAW memulai khutbahnya dengan pesan yang sangat mendasar: tentang kemuliaan manusia. Tentang darah yang tidak boleh ditumpahkan. Tentang harta yang tidak boleh dirampas. Tentang kehormatan manusia yang tidak boleh dihancurkan.
Subhanallah, di tengah dunia hari ini yang begitu mudah dipenuhi: fitnah, hinaan, kebencian, dan permusuhan, Rasulullah SAW justru membuka khutbah perpisahannya dengan: penghormatan terhadap kemanusiaan.
Hari itu, di Padang Arafah, Rasulullah SAW juga menghancurkan kesombongan manusia. Beliau berkata: “Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab. Tidak pula non-Arab atas Arab. Tidak pula yang putih atas yang hitam, kecuali karena takwa.”
Betapa agung ajaran ini. Ketika dunia hari ini masih sibuk: merasa paling suci, merasa paling benar, merasa paling tinggi, Rasulullah SAW justru mengajarkan: manusia hanya mulia karena takwanya. Bukan karena: jabatan, kekayaan, keturunan, warna kulit, ataupun popularitas dunia.
Dan di tengah suasana Arafah yang agung itu, Rasulullah SAW juga berbicara tentang keluarga. Tentang perempuan. Tentang amanah rumah tangga. Tentang kasih sayang yang harus dijaga. Seolah Rasulullah SAW ingin menyampaikan bahwa: peradaban besar selalu dimulai dari keluarga yang dijaga dengan cinta dan ketakwaan.
Lalu, di penghujung khutbahnya, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat: “Bukankah aku telah menyampaikan?” Para sahabat menjawab sambil menangis: “Benar, engkau telah menyampaikan.” Dan Rasulullah SAW mengangkat jari beliau ke langit lalu berkata: “Ya Allah… saksikanlah.”
Ya Allah, Betapa menggetarkan suasana itu. Langit Arafah menjadi saksi bahwa seorang nabi telah menunaikan amanahnya dengan sempurna.
Kini, pertanyaannya bukan lagi: apakah khutbah itu sudah disampaikan? Tetapi: apakah kita masih mau mendengarkannya? (*)
~ Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI, Ketua ICMI Jawa Timur.
May 25, 2026 • 20670 views
Nov 21, 2025 • 1131 views
Nov 03, 2025 • 468 views
May 20, 2026 • 191 views