Logo

Sekjen Zaky: Indonesia Memerlukan Visi Baru Menjadi Global Hajj Economic Hub

Jul 04, 2026 Editorial • 16 views

AMPHURI.ORG, JAKARTA–Selama puluhan tahun, Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia dan salah satu penyumbang jamaah umrah terbesar setiap tahunnya. Setiap tahun sekitar 221.000 jamaah haji dan sekitar 1,5 juta jamaah umrah berangkat ke Tanah Suci. Besarnya jumlah jamaah tersebut menghasilkan arus ekonomi yang sangat besar, mulai dari pembelian tiket pesawat, hotel, perlengkapan ibadah, katering, transportasi, visa, logistik, layanan kesehatan, hingga produk halal.

“Namun muncul sebuah pertanyaan strategis, apakah Indonesia sudah memperoleh manfaat ekonomi yang optimal dari besarnya ekosistem haji tersebut? Jawabannya adalah belum,” tegas Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (DPP AMPHURI), Ahmad Zaky Zakariya Anshary, saat menjadi pembicara di Seminar Nasional Membangun Ekosistem Haji sebagai Circular Economy: Dari Akses, Layanan, hingga Industri Pendukung di Indonesia, di kampur Uhamka Jakarta, Sabtu (4/7/2026).

Menurutnya, sebagian besar perhatian masih terfokus pada aspek penyelenggaraan ibadah. Padahal, di balik ibadah haji terdapat peluang besar untuk membangun ekosistem ekonomi yang mampu menggerakkan usaha menengah, keil dan mikro (UMKM), industri halal, sektor jasa, teknologi, logistik, pendidikan, dan inovasi.

Karena itu, kata Zaky, Indonesia memerlukan visi baru menjadi Global Hajj Economic Hub, yaitu pusat ekosistem ekonomi haji dunia.

Lebih lanjut, terkait circular economy, Zaky menyampaikan dalam perspektif modern yang dimaksud dengan circular economy adalah sistem ekonomi yang memastikan nilai ekonomi terus berputar melalui penggunaan sumber daya secara efisien, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Konsep ini, lanjut Zaky, ternyata sejalan dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah, ayat 198, yang artinya ‘Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki) dari Tuhanmu.’

“Ayat ini turun ketika para sahabat bertanya mengenai hukum berdagang saat musim haji. Allah menegaskan bahwa aktivitas ekonomi yang halal selama tidak mengganggu ibadah merupakan bagian dari karunia-Nya,” jelasnya.

Zaky pun mengungkapkan, sejak masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW), musim haji telah menjadi pusat perdagangan internasional melalui pasar-pasar seperti Ukaz, Majannah, dan Dzul Majaz.

“Artinya, hubungan antara ibadah dan aktivitas ekonomi bukanlah konsep baru, melainkan bagian dari sejarah peradaban Islam,” tegas Zaky di hadapan peserta Seminar Nasional yang dihadiri oleh Menteri Haji dan Umrah RI, Mochammad Irfan Yusuf serta narasumber lainnya.

Menurut Zaky, melalui Vision 2030, Arab Saudi tidak lagi memandang haji dan umrah hanya sebagai pelayanan ibadah. Mereka membangun apa yang kini banyak disebut sebagai Pilgrim Economy. Strategi tersebut mencakup pembangunan infrastruktur, digitalisasi layanan, hotel, transportasi, retail, investasi, artificial intelligence, smart pilgrimage, dan hospitality industry.

“Tujuannya bukan hanya meningkatkan kualitas pelayanan jamaah, tetapi juga menjadikan sektor haji dan umrah sebagai salah satu motor diversifikasi ekonomi nasional,” ujarnya.

Karena itu, bisa jadi, ke depan lebih banyak lagi perusahaan Indonesia yang berdiri dan bergerak di Saudi dengan akuisisi atau memiliki lebih banyak hotel, Bus, dapur Catering dan lain-lain. Bahkan penerbangan Indonesia lebih banyak lagi yang melayani jamaah Haji dan Umrah dan juga toko toko dan restoran yang dimiliki pengusaha pengusaha Indonesia.

Menurutnya, Indonesia dapat mengambil inspirasi tersebut. Namun Indonesia tidak perlu meniru seluruh model Saudi. Indonesia memiliki keunggulan berbeda. Sebab, Saudi adalah destination country. Sementara Indonesia adalah origin country dengan jumlah jamaah terbesar. Karena itu Indonesia harus membangun modelnya sendiri.

Dalam kesempatan itu, Zaky juga menyampaikan gagasan bahwa Indonesia sebagai Global Hajj Economic Hub. Pasalnya, Indonesia tidak cukup hanya menjadi negara pengirim jamaah terbesar. Indonesia harus menjadi pusat inovasi haji, ekonomi haji, industri halal, riset, digital pilgrimage, pemberdayaan UMKM, serta ekspor produk haji dan umrah.

 “Inilah yang saya sebut sebagai Global Hajj Economic Hub,” katanya.

 Setidaknya, lanjut Zaky, ada delapan pilar Global Hajj Economic Hub. Diantaranya pertama, Hajj Economic Ecosystem yang mengintegrasikan seluruh pelaku, mulai dari jamaah, travel, pemerintah, perguruan tinggi, UMKM, perbankan syariah, logistik, marketplace, industri halal, hingga investor. Semua bergerak dalam satu ekosistem.

Kedua, Hajj Value Chain, menghubungkan seluruh rantai nilai. Di mulai dari Jamaah, Travel, UMKM, Produsen, Logistik, Marketplace, Ekspor, dan pada akhirnya Ekonomi Nasional. Dimana setiap transaksi jamaah harus menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat Indonesia.

Ketiga, Hajj Innovation Hub. Indonesia perlu menjadi pusat inovasi haji dunia. Mengembangkan: AI untuk layanan jamaah, wearable devices, smart manasik, aplikasi kesehatan, big data jamaah, digital passport, dan smart luggage.

Kempat, Halal Industry Integration. Dimana ekonomi haji harus menjadi penggerak makanan halal, kosmetik halal, farmasi halal, fashion muslim, keuangan syariah, dan wisata halal.

Kelima, Hajj Knowledge Center. Indonesia perlu mendirikan pusat riset nasional mengenai: ekonomi haji, kebijakan haji, artificial intellegenc (AI), manajemen haji, supply chain, circular economy, dan sustainability.

“Perguruan tinggi menjadi mitra utama,” tandasnya.

Keenam, Global Hajj Marketplace. Platform digital nasional yang mempertemukan travel, jamaah, UMKM, eksportir, dan Buyer/pembeli internasional.

Ketujuh, Hajj Export Hub. Indonesia tidak hanya mengekspor jamaah. Indonesia juga harus mengekspor batik, textile, gamis, abaya dan lain-lain, perlengkapan ibadah, peci, sejadah dan lain sebagainya, makanan, snack, susu, produk pertanian dan perikanan serta yang lainnya, herbal, obat-obatan, souvenir, okeh oleh haji umrah serta produk halal, kosmetik, dan perfume. Dimana Indonesia tercatat sebagai pengirim bahan baku parfum dunia 80-90%.

“Melalui jaringan haji dan umrah dunia. Diharap ke depan di mall, supermarket dan toko toko di Arab Saudi sehingga tidak hanya bisa dikonsumsi oleh jamaah Haji dan Umrah Indonesia tapi juga bisa dikonsumsi oleh WNI yang Berada di Saudi yang diperkirakan berjumlah 700 ribu hingga 1.5 juta WNI bahkan warga lokal Saudi Arabia,” ujarnya.

Terakhir, Sustainable Pilgrimage. Ekosistem haji harus menerapkan prinsip Environmental, Social, dan Governance (ESG). Dengan demikian pertumbuhan ekonomi tetap menjaga keberlanjutan.

Lantas, dimanakah peran strategis AMPHURI? Menurut Zaky, dalam grand strategy ini, AMPHURI tidak lagi diposisikan hanya sebagai asosiasi penyelenggara perjalanan ibadah. AMPHURI harus bertransformasi menjadi Hajj Economic Orchestrator.

Lebih lanjut Zaky menyampaikan, peran strategis tersebut meliputi pertama, Regulator Partner: mitra strategis pemerintah dalam penyusunan kebijakan. Kedua, Ecosystem Builder: Menghubungkan travel, UMKM, perguruan tinggi, investor, dan pemerintah. Ketiga, Innovation Catalyst: Mengembangkan inovasi digital.

“Kemudian Knowledge Center, menghasilkan kajian dan rekomendasi kebijakan. Dan kelima, Global Connector, yakni membangun jejaring internasional,” jelasnya.

Tidak hanya itu, AMPHURI, lanjut Zaky, juga mencanangkan program nasional AMPHURI UMKM Partnership.

Sebagai implementasi konkret, AMPHURI dapat meluncurkan lima program strategis, yakni AMPHURI UMKM Directory, AMPHURI Quality Standard, AMPHURI Marketplace, AMPHURI Business Matching dan AMPHURI Export Hub,” ujarnya.

Di akhir pemaparannya, Zaky menegaskan, haji adalah ibadah. Namun sejarah Islam menunjukkan bahwa haji juga merupakan penggerak ilmu pengetahuan, perdagangan, diplomasi, dan pembangunan peradaban. Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki negara lain, yakni jumlah jamaah yang besar, populasi Muslim terbesar di dunia, jutaan UMKM, industri halal yang berkembang, dan asosiasi penyelenggara yang kuat.

“Jika seluruh potensi tersebut disatukan dalam satu ekosistem yang terintegrasi, maka Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai negara pengirim jamaah terbesar di dunia. Indonesia akan dikenal sebagai pusat ekonomi haji dunia,” tandasnya. (hay)

Comments

No comments yet. Be the first to comment.

Leave a Comment

Your email will not be published.
Your comment will appear after admin approval.