May 28, 2026 Hayat Amphuri
Oleh: Ulul Albab
KETIKA musim haji kembali datang. Televisi menayangkan lautan manusia thawaf mengelilingi Ka’bah. Media sosial dipenuhi foto-foto jamaah berpakaian ihram. Takbir dan talbiyah kembali menggema dari Tanah Suci. Dan di banyak rumah kaum Muslimin Indonesia, ada banyak hati yang diam-diam ikut bergetar.
Ada yang memandang layar televisi sambil berbisik: “Ya Allah… kapan aku bisa sampai ke sana?”. Ada yang sudah menabung bertahun-tahun tetapi belum cukup biaya. Ada yang sudah mendaftar tetapi antreannya masih sangat panjang. Ada pula orang tua yang mungkin sepanjang hidupnya hanya mampu memandang Ka’bah lewat doa dan air mata.
Lalu muncul pertanyaan yang sangat manusiawi: Apa makna musim haji bagi orang-orang yang tidak berangkat haji? Apakah kemuliaan itu hanya milik mereka yang berada di Mekkah? Tentu tidak. Karena sejatinya, haji bukan hanya perjalanan tubuh menuju Ka’bah. Haji pada hakikatnya adalah perjalanan hati menuju Allah Subhanahu Wata’ala.
Ka’bah memang berada di Mekkah. Tetapi Allah tidak pernah jauh dari hamba-Nya di mana pun ia berada. Karena itu, ruh haji seharusnya tidak hanya hidup di Tanah Suci, tetapi juga hidup di rumah-rumah umat Islam. Hidup di hati orang-orang yang terus belajar memperbaiki dirinya. Hidup pada jiwa-jiwa yang terus berusaha membersihkan kesombongan, menundukkan ego, memperbaiki akhlak, dan mendekat kepada Allah.
Bukankah inti haji sesungguhnya adalah ketundukan? Dan ketundukan itu bisa dilakukan siapa saja. Mungkin kita belum mampu mencium Hajar Aswad. Tetapi kita masih bisa menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Mungkin kita belum mampu berdiri di Padang Arafah. Tetapi kita masih bisa menangis dalam doa di sepertiga malam.
Mungkin kita belum mampu melempar jumrah di Mina. Tetapi kita masih bisa melawan hawa nafsu dan godaan setan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin kita belum memakai pakaian ihram. Tetapi kita masih bisa belajar melepaskan kesombongan dunia yang selama ini membungkus hati kita.
Dan boleh jadi, di mata Allah, itu semua juga bagian dari perjalanan menuju-Nya. Karena Allah tidak hanya melihat siapa yang sampai ke Mekkah. Allah juga melihat siapa yang hatinya sungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya.
Tahun ini mungkin kita belum dipanggil menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Tetapi jangan pernah merasa jauh dari rahmat-Nya. Sebab boleh jadi, Allah sedang mendidik kita dengan cara yang berbeda: belajar ikhlas dalam penantian, belajar sabar dalam keterbatasan, dan belajar mencintai-Nya meski belum melihat Ka’bah secara langsung.
Karena sesungguhnya, tidak semua orang yang berada di dekat Ka’bah hatinya dekat kepada Allah. Dan tidak semua orang yang jauh dari Mekkah hatinya jauh dari-Nya.
Maka musim haji ini jangan hanya menjadi momen melihat keberangkatan orang lain. Jadikan juga sebagai momentum keberangkatan hati kita menuju kehidupan yang lebih bersih, lebih lembut, lebih jujur, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Sebab sesungguhnya, perjalanan terpenting manusia bukanlah perjalanan menuju kota suci. Tetapi perjalanan hati menuju ridha Ilahi. Tapi tetaplah niat dan berharap suatu saat Allah memanggil kita menjadi tamu-Nya dalam musim haji berikutnya. (*)
~ Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI
May 25, 2026 • 50456 views
Nov 21, 2025 • 2533 views
Nov 03, 2025 • 1244 views
Oct 29, 2025 • 415 views
May 28, 2026
May 27, 2026