Logo

Hadiri Khitaamuhu Misk, AMPHURI Dorong Indonesia Raih Labbaytum Award di Masa Mendatang

May 30, 2026 Redaksi • 32 views

AMPHURI.ORG, MEKKAH–Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) menghadiri Khitaamuhu Misk yang digelar di gedung Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, pada Jumat (29/5/2026) malam. Sebuah event tahunan sebagai forum evaluasi penyelenggaraan haji, sekaligus penganugerahan Labbaytum Award kepada negara-negara dengan kinerja pelayanan jamaah terbaik dunia.

“Acara yang dipimpin langsung oleh Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Tawfiq Fawzan Al-Rabiah itu menjadi forum prestisius yang mengevaluasi kualitas pelayanan jamaah dari berbagai negara berdasarkan indikator kepatuhan regulasi, kualitas layanan, kepuasan jamaah, kesehatan, ketepatan administrasi visa, dan inovasi pelayanan,” kata Sekretaris Jenderal AMPHURI, Zaky Zakariya Anshary dalam keterangannya, di Mekkah, Sabtu (30/5/2026). 

“Alhamdulillah AMPHURI yang diwakili Ketum, Sekjen dan Bendum, hadir membersamai delegasi Indonesia, dalam hal ini Kementerian Haji dan Umrah RI,” imbuhnya.

Menurut Zaky, penghargaan tertinggi Labbaytum Award diberikan kepada sejumlah negara yang dinilai berhasil menghadirkan pelayanan terbaik bagi jamaahnya. Di antara negara yang menerima penghargaan tertinggi dalam pelaksanaan haji untuk Diamond Award diraih oleh Irak, Malaysia dan Ethiopia. Gold Award diberikan kepada Turki, Djibouti dan Komoro. Untuk Silver Award diraih oleh Maroko, Oman, dan Mesir. Sementara untuk Bronze Award diberikan kepada Tunisia, Aljazair dan Singapura. 

Zaky menyampaikan, Indonesia patut mengapresiasi capaian negara-negara tersebut sebagai pembelajaran penting dalam meningkatkan mutu pelayanan jamaah Indonesia.

“Penghargaan ini bukan sekadar simbol, tetapi cerminan kualitas tata kelola pelayanan jamaah secara menyeluruh. Insya Allah Indonesia dapat meraih penghargaan serupa di masa mendatang apabila seluruh pemangku kepentingan terus meningkatkan kualitas pelayanan, khususnya pada aspek kesehatan jamaah, kepatuhan sistem, dan kepuasan jamaah,” tegasnya.

Bagi Indonesia, kata Zaky, salah satu tantangan yang masih perlu diperbaiki adalah tingginya angka jamaah berisiko tinggi (risti), lansia, dan kasus kesehatan selama operasional haji.

“Ke depan diperlukan integrasi yang lebih kuat antara istithaah kesehatan, pelayanan medis, dan edukasi jamaah sejak sebelum keberangkatan,” ujarnya.

AMPHURI menilai penghargaan ini dapat menjadi benchmark internasional bagi seluruh negara pengirim jamaah untuk terus meningkatkan standar pelayanan sesuai visi Saudi dalam mewujudkan pengalaman ibadah yang aman, nyaman, dan berkualitas.

Zaky menambahkan pada tahun ini, Labbaytum Award diberikan dalam beberapa tingkatan, yakni Bronze, Silver, Gold dan Diamond. Adapun yang menilai berbagai indikator seperti kualitas pelayanan jamaah, kepuasan jamaah, kepatuhan regulasi, kesiapan kesehatan, inovasi digital, dan efektivitas operasional. 

Lebih lanjut Zaky menyebutkan bahwa beberapa negara yang berhasil meraih penghargaan memiliki keunggulan pada. Di antaranya adalah tingkat kepatuhan sistem yang sangat tinggi, angka kepuasan jamaah yang konsisten, digitalisasi layanan, pengelolaan kesehatan jamaah yang lebih terkendali, serta penyelesaian administrasi dan visa tepat waktu. 

Zaky pun optimistis, Indonesia memiliki peluang besar untuk meraih penghargaan tersebut dalam beberapa tahun mendatang apabila transformasi pelayanan haji nasional berjalan konsisten. Terlebih, Indonesia memiliki SDM yang kuat, pengalaman panjang dan dukungan pemerintah yang besar dengan terbentuknya Kementerian Haji dan Umrah.

“Dengan penguatan layanan kesehatan, digitalisasi, serta peningkatan kepuasan jamaah, saya yakin Indonesia dapat menjadi salah satu kandidat penerima Labbaytum Award di masa depan,” katanya optimis.

Zaky menilai jika menggunakan parameter yang selama ini dipublikasikan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, faktor yang kemungkinan membuat Indonesia belum memperoleh penghargaan tertinggi tersebut adalah tingginya jumlah jamaah lansia dan risiko kesehatan. Disamping itu, angka perawatan dan kematian jamaah yang relatif masih tinggi dibanding beberapa negara lain, kompleksitas pengelolaan kuota yang sangat besar, variasi kualitas pelayanan antar daerah dan embarkasi, serta tingkat kepuasan jamaah yang masih perlu ditingkatkan secara merata. (hay)


Comments

No comments yet. Be the first to comment.

Leave a Comment

Your email will not be published.
Your comment will appear after admin approval.