May 28, 2026 Hayat Amphuri
Oleh Ulul Albab
HARI ini, Kamis 28 Mei 2026, umat Islam masih berada dalam suasana Hari Tasyrik. Sebagian masyarakat mungkin masih merasakan hangatnya suasana Idul Adha. Aroma masakan qurban masih terasa di rumah-rumah. Takbir masih terdengar usai shalat fardhu.
Namun tidak sedikit pula diantara umat yang belum memahami apa sebenarnya Hari Tasyrik itu? Mengapa pada hari-hari ini umat Islam justru diharamkan berpuasa? Padahal dalam banyak kesempatan lain, puasa justru adalah ibadah yang sangat dianjurkan.
Inilah salah satu keindahan Islam. Agama ini tidak hanya mengajarkan ibadah dalam bentuk menahan diri (prihatin), tetapi juga mengajarkan bagaimana menikmati karunia Allah dengan hati yang penuh syukur.
Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dalam hadis shahih, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) bersabda: “Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim).
Karena itulah mayoritas ulama sepakat bahwa berpuasa pada Hari Tasyrik diharamkan, kecuali dalam kondisi tertentu yang sangat khusus bagi jamaah haji.
Secara sejarah, istilah “Tasyrik” berasal dari kebiasaan masyarakat Arab dahulu yang menjemur daging qurban di bawah sinar matahari agar tahan lebih lama. Daging itu disebut “tasyriq al-lahm”.
Namun makna Hari Tasyrik jauh lebih dalam daripada sekadar soal makanan. Hari Tasyrik adalah pendidikan ruhani tentang keseimbangan hidup. Bahwa seorang mukmin tidak boleh hanya mengenal Allah dalam rasa lapar dan tangis ibadah semata, tetapi juga harus mampu mengenal Allah dalam rasa syukur, kebahagiaan, dan kenikmatan hidup.
Karena itu, pada hari-hari ini Islam menganjurkan umat untuk memperbanyak dzikir, takbir, tahmid, dan syukur. Menikmati makanan bukan sekadar urusan fisik, tetapi bagian dari kesadaran spiritual bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah SWT.
Di zaman modern ini, banyak manusia justru sulit menikmati hidup dengan sehat. Ada yang terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bersyukur. Ada yang hidup berkecukupan tetapi jiwanya tetap gelisah. Ada pula yang terlalu keras terhadap dirinya sendiri hingga lupa bahwa Islam juga mengajarkan kebahagiaan yang halal dan menenangkan.
Hari Tasyrik mengingatkan kita bahwa menjadi dekat kepada Allah bukan berarti harus selalu murung, sedih, menangis. Islam bukan agama yang memusuhi kebahagiaan. Islam justru mengajarkan kebahagiaan yang bersih, sederhana, penuh syukur, dan tidak melalaikan Allah.
Karena itu, Hari Tasyrik sejatinya bukan hanya tentang larangan puasa. Tetapi tentang pendidikan jiwa agar manusia tidak kufur terhadap nikmat Allah. Makanlah dengan syukur. Berkumpullah dengan keluarga dengan penuh kasih sayang. Nikmatilah rezeki Allah tanpa kesombongan. Dan jangan lupa berdzikir di tengah kebahagiaan hidup.
Jadi, Hari Tasyrik ini dihadirkan untuk mengajarkan bahwa seorang mukmin sejati adalah manusia yang tetap dekat kepada Allah, baik saat lapar maupun saat kenyang, baik saat sedih maupun saat bahagia.
Subhanallah… betapa indahnya agama kita ini. (*)
~ Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI
May 25, 2026 • 50309 views
Nov 21, 2025 • 2453 views
Nov 03, 2025 • 1215 views
Oct 29, 2025 • 396 views
May 26, 2026