May 27, 2026 Hayat Amphuri
Oleh Ulul Albab
IDUL Adha tahun ini terjadi di tengah zaman yang sedang mengalami krisis besar: krisis keteladanan. Saat ini umat tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Tidak kekurangan tokoh yang tampil di media sosial. Tetapi umat semakin sulit menemukan figur yang benar-benar: jujur, menenangkan, tidak provokatif, bijaksana, dan mampu menghadirkan kesejukan bagi masyarakat.
Dunia kita saat ini terlalu diramaikan oleh suara-suara keras. Semua orang seolah ingin berbicara. Semua ingin didengar. Semua merasa paling benar. Tetapi semakin sedikit yang benar-benar mampu menjadi teladan dalam akhlak dan ketulusan. Akibatnya, masyarakat semakin lelah.
Masyarakat lelah melihat pertengkaran yang tidak selesai. Lelah melihat elite saling menyerang. Lelah melihat media sosial yang penuh hinaan. Bahkan kadang lelah melihat dakwah yang lebih sibuk memarahi daripada menenangkan umat. Karena agama sejatinya dihadirkan untuk menjadi rahmat.
Di tengah keadaan seperti itulah, Idul Adha menjadi momen ispiratif. Menghadirkan kembali ingatan sejarah tentang sosok Nabi Ibrahim AS sebagai simbol keteladanan moral yang sangat agung.
Nabi Ibrahim bukan hanya nabi yang taat. Beliau adalah figur yang: lembut, jujur, penuh kasih sayang, berani memperjuangkan kebenaran, tetapi tetap santun dan bijaksana. Bahkan ketika menghadapi ayahnya sendiri yang menolak dakwahnya, Nabi Ibrahim tidak membalas dengan caci maki. Beliau tetap berbicara dengan penuh adab dan penghormatan.
Subhanallah. Betapa berbeda dengan manusia hari ini yang kadang baru berbeda pendapat sedikit saja sudah mudah menghina, memutus persaudaraan, bahkan menyebarkan kebencian. Nabi Ibrahim juga mengajarkan bahwa keteladanan bukan lahir dari pencitraan, tetapi dari kejujuran hati dan konsistensi hidup.
Saat ini orang terlalu mudah membangun citra. Media sosial membuat semua orang bisa terlihat hebat. Padahal keteladanan sejati tidak dibangun oleh tampilan luar. Keteladanan sejati lahir dari: integritas, keikhlasan, keberanian menahan ego, dan kemampuan menjaga akhlak dalam keadaan apa pun.
Umat saat ini sesungguhnya tidak membutuhkan tokoh yang pandai memprovokasi. Umat lebih membutuhkan figur yang mampu: meredakan kebencian, menyatukan hati, memberi harapan, dan menghadirkan ketenangan. Karena dunia sudah terlalu gaduh.
Maka Idul Adha seharusnya menjadi momentum untuk kita bertanya kepada diri kita masing-masing: apakah kehadiran kita selama ini menghadirkan ketenangan atau justru kegaduhan? Apakah lisan kita lebih banyak menyembuhkan atau melukai? Apakah tulisan dan ucapan kita membuat orang semakin dekat kepada Allah atau justru semakin saling membenci?
Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa kekuatan terbesar seorang mukmin bukan terletak pada kerasnya suara, tetapi pada mulianya akhlak. Dan keteladanan yang tinggi bukan ketika dipuji banyak orang, tetapi ketika kehadirannya membuat orang lain merasa: aman, dihargai, dan dimanusiakan.
Karena itu, Idul Adha tahun ini jangan hanya menjadi momentum menyembelih hewan qurban. Mari kita jadikan juga sebagai momentum melahirkan kembali keteladanan dalam kehidupan umat. Sebab boleh jadi, krisis terbesar bangsa dan umat saat ini bukan semata krisis ekonomi atau politik, tetapi krisis figur yang mampu menghadirkan keteduhan dan kejujuran di tengah masyarakat.
Dan Nabi Ibrahim AS telah menunjukkan bahwa keteladanan sejati selalu lahir dari hati yang tunduk kepada Allah dan penuh kasih sayang kepada sesama manusia.
~ Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan DPP AMPHURI, Ketua ICMI Jawa Timur
May 25, 2026 • 49368 views
Nov 21, 2025 • 1984 views
Nov 03, 2025 • 1010 views
Oct 29, 2025 • 341 views