Logo

Indonesia Menuju Global Hajj Economic Hub

Jul 05, 2026 Editorial • 27 views

Indonesia Menuju Global Hajj Economic Hub

Grand Strategy Membangun Ekosistem Ekonomi Haji Dunia Berbasis Circular Economy, Industri Halal, dan Pemberdayaan UMKM

Oleh:

H. Ahmad Zaky Zakaria Anshary, Lc., M.A.

SELAMA puluhan tahun, Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia dan salah satu penyumbang jamaah umrah terbesar setiap tahunnya. Setiap tahun sekitar 221.000 jamaah haji dan sekitar 1,5 juta jamaah umrah berangkat ke Tanah Suci.

Besarnya jumlah jamaah tersebut menghasilkan arus ekonomi yang sangat besar, mulai dari pembelian tiket pesawat, hotel, perlengkapan ibadah, katering, transportasi, visa, logistik, layanan kesehatan, hingga produk halal.

Namun muncul sebuah pertanyaan strategis: Apakah Indonesia sudah memperoleh manfaat ekonomi yang optimal dari besarnya ekosistem haji tersebut?

Jawabannya adalah belum.

Sebagian besar perhatian masih terfokus pada aspek penyelenggaraan ibadah. Padahal, di balik ibadah haji terdapat peluang besar untuk membangun ekosistem ekonomi yang mampu menggerakkan UMKM, industri halal, sektor jasa, teknologi, logistik, pendidikan, dan inovasi.

Karena itu, Indonesia memerlukan visi baru: menjadi Global Hajj Economic Hub, yaitu pusat ekosistem ekonomi haji dunia.

Haji sebagai Circular Economy

Dalam perspektif modern, circular economy adalah sistem ekonomi yang memastikan nilai ekonomi terus berputar melalui penggunaan sumber daya secara efisien, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Konsep ini ternyata sejalan dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah, ayat 198, yang artinya: “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki) dari Tuhanmu.”

Ayat ini turun ketika para sahabat bertanya mengenai hukum berdagang saat musim haji. Allah menegaskan bahwa aktivitas ekonomi yang halal selama tidak mengganggu ibadah merupakan bagian dari karunia-Nya.

Sejak masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW), musim haji telah menjadi pusat perdagangan internasional melalui pasar-pasar seperti Ukaz, Majannah, dan Dzul Majaz. Artinya, hubungan antara ibadah dan aktivitas ekonomi bukanlah konsep baru, melainkan bagian dari sejarah peradaban Islam.

Belajar dari Saudi Arabia

Melalui Vision 2030, Arab Saudi tidak lagi memandang haji dan umrah hanya sebagai pelayanan ibadah. Mereka membangun apa yang kini banyak disebut sebagai Pilgrim Economy.

Strategi tersebut mencakup: pembangunan infrastruktur, digitalisasi layanan, hotel, transportasi, retail, investasi, artificial intelligence, smart pilgrimage, dan hospitality industry.

Tujuannya bukan hanya meningkatkan kualitas pelayanan jamaah, tetapi juga menjadikan sektor haji dan umrah sebagai salah satu motor diversifikasi ekonomi nasional. Ke depan lebih banyak lagi perusahaan Indonesia yang berdiri dan bergerak di Saudi dengan akuisisi atau memiliki lebih banyak hotel, Bus, dapur Catering dll, bahkan Penerbangan Indonesia lebih banyak lagi yang melayani jamaah Haji dan Umrah dan juga toko toko dan restoran yang dimiliki pengusaha pengusaha Indonesia.

Indonesia dapat mengambil inspirasi tersebut. Namun Indonesia tidak perlu meniru seluruh model Saudi. Indonesia memiliki keunggulan berbeda.

Saudi adalah destination country. Indonesia adalah origin country dengan jumlah jamaah terbesar. Karena itu Indonesia harus membangun modelnya sendiri.

Grand Concept: Indonesia sebagai Global Hajj Economic Hub

Indonesia tidak cukup hanya menjadi negara pengirim jamaah terbesar. Indonesia harus menjadi pusat: inovasi haji, ekonomi haji, industri halal, riset, digital pilgrimage, pemberdayaan UMKM, serta ekspor produk haji dan umrah.

Inilah yang saya sebut sebagai Global Hajj Economic Hub.

Delapan Pilar Global Hajj Economic Hub

1. Hajj Economic Ecosystem

Mengintegrasikan seluruh pelaku: jamaah, travel, pemerintah, perguruan tinggi, UMKM, perbankan syariah, logistik, marketplace, industri halal, dan investor. Semua bergerak dalam satu ekosistem.

2. Hajj Value Chain

Menghubungkan seluruh rantai nilai: di mulai dari Jamaah, Travel, UMKM, Produsen, Logistik, Marketplace, Ekspor, dan pada akhirnya Ekonomi Nasional. Dimana setiap transaksi jamaah harus menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat Indonesia.

3. Hajj Innovation Hub

Indonesia perlu menjadi pusat inovasi haji dunia. Mengembangkan: AI untuk layanan jamaah, wearable devices, smart manasik, aplikasi kesehatan, big data jamaah, digital passport, dan smart luggage.

4. Halal Industry Integration

Ekonomi haji harus menjadi penggerak: makanan halal, kosmetik halal, farmasi halal, fashion muslim, keuangan syariah, dan wisata halal.

5. Hajj Knowledge Center

Indonesia perlu mendirikan pusat riset nasional mengenai: ekonomi haji, kebijakan haji, artificial intellegenc (AI), manajemen haji, supply chain, circular economy, dan sustainability.

Perguruan tinggi menjadi mitra utama.

6. Global Hajj Marketplace

Platform digital nasional yang mempertemukan: travel, jamaah, UMKM, eksportir, dan Buyer/pembeli internasional.

7. Hajj Export Hub

Indonesia tidak hanya mengekspor jamaah. Indonesia juga harus mengekspor:

  • batik, textile, gamis, abaya dll
  • perlengkapan ibadah, peci, sejadah dll
  • makanan, Snack, Susu, produk pertanian dan perikanan dll
  • herbal, obat obatan dll
  • souvenir, okeh oleh haji Umrah

produk halal, kosmetik, Perfume (Indonesia pengirim bahan baku Parfum dunia 80-90%)

Melalui jaringan haji dan umrah dunia. Diharap ke depan di Mall, supermarket dan toko toko di Arab Saudi sehingga tidak hanya bisa dikonsumsi oleh jamaah Haji dan Umrah Indonesia tapi juga bisa dikonsumsi oleh WNI yang Berada di Saudi yang diperkirakan berjumlah 700rb hingga 1.5jt WNI bahkan warga lokal Saudi Arabia.

8. Sustainable Pilgrimage

Ekosistem haji harus menerapkan prinsip: Environmental, Social, dan Governance (ESG). Dengan demikian pertumbuhan ekonomi tetap menjaga keberlanjutan.

Peran Strategis AMPHURI

Dalam grand strategy ini, AMPHURI tidak lagi diposisikan hanya sebagai asosiasi penyelenggara perjalanan ibadah. AMPHURI harus bertransformasi menjadi Hajj Economic Orchestrator.

Peran strategis tersebut meliputi:

  1. Regulator Partner: Mitra strategis pemerintah dalam penyusunan kebijakan.
  2. Ecosystem Builder: Menghubungkan travel, UMKM, perguruan tinggi, investor, dan pemerintah.
  3. Innovation Catalyst: Mengembangkan inovasi digital.
  4. Knowledge Center: Menghasilkan kajian dan rekomendasi kebijakan.
  5. Global Connector: Membangun jejaring internasional.

Program Nasional AMPHURI UMKM Partnership

Sebagai implementasi konkret, AMPHURI dapat meluncurkan lima program strategis:

  1. AMPHURI UMKM Directory – database nasional UMKM mitra anggota AMPHURI.
  2. AMPHURI Quality Standard – standar mutu dan sertifikasi produk yang digunakan jamaah.
  3. AMPHURI Marketplace – platform digital produk haji, umrah, dan halal.
  4. AMPHURI Business Matching – forum tahunan yang mempertemukan travel, UMKM, investor, perbankan syariah, dan mitra internasional.
  5. AMPHURI Export Hub – membuka akses produk Indonesia ke pasar Arab Saudi dan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) melalui jaringan anggota AMPHURI.

Roadmap Indonesia 2045

  • 2026–2030: Membangun ekosistem nasional.
  • 2030–2035: Digitalisasi penuh industri haji Umrah dan terwujudnya “Kampung Haji Indonesia di Mekkah”
  • 2035–2040: Memperkuat ekspor produk halal.
  • 2040–2045: Indonesia menjadi Global Hajj Economic Hub.

Penutup

Haji adalah ibadah. Namun sejarah Islam menunjukkan bahwa haji juga merupakan penggerak ilmu pengetahuan, perdagangan, diplomasi, dan pembangunan peradaban.

Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki negara lain: jumlah jamaah yang besar, populasi Muslim terbesar di dunia, jutaan UMKM, industri halal yang berkembang, dan asosiasi penyelenggara yang kuat.

Jika seluruh potensi tersebut disatukan dalam satu ekosistem yang terintegrasi, maka Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai negara pengirim jamaah terbesar di dunia. Indonesia akan dikenal sebagai pusat ekonomi haji dunia.

Sebagaimana Silicon Valley menjadi pusat inovasi teknologi, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi Global Hajj Economic Hub, tempat bertemunya inovasi, industri halal, pemberdayaan UMKM, riset, teknologi, dan pelayanan haji kelas dunia.

Dan di sinilah AMPHURI dapat mengambil peran sebagai penggerak kolaborasi nasional —menghubungkan pemerintah, biro travel, jamaah, UMKM, perguruan tinggi, lembaga keuangan syariah, dan mitra internasional— agar manfaat ibadah haji tidak hanya dirasakan oleh jamaah, tetapi juga menjadi sumber kemajuan ekonomi dan kesejahteraan bangsa Indonesia. (*)

~ H. Ahmad Zaky Zakariya Anshary, Lc., MA., Sekretaris Jenderal DPP AMPHURI

Comments

No comments yet. Be the first to comment.

Leave a Comment

Your email will not be published.
Your comment will appear after admin approval.