Logo

Influencer Itu Mitra Strategis atau Risiko Strategis?, Catatan Jelang Mukernas 2026 (Episode 4)

Jun 15, 2026 Editorial • 16 views

Catatan Jelang Mukernas 2026: Umrah, Influencer, dan Masa Depan Industri Umrah

Oleh: Ulul Albab

SETELAH tiga episode sebelumnya, mungkin ada yang bertanya: "Lalu apakah travel tidak boleh bekerja sama dengan influencer?" Jawabanya tentu saja “Boleh.” Bahkan dalam banyak kasus, kerja sama itu bisa sangat bermanfaat.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa dunia sudah berubah. Cara masyarakat mencari informasi juga berubah. Jika dahulu promosi travel banyak dilakukan melalui pengajian, majelis taklim, dan rekomendasi dari mulut ke mulut, maka sekarang sebagian besar percakapan justru terjadi di ruang digital.

Karena itu influencer dapat menjadi mitra strategis. Mereka membantu memperkenalkan layanan. Membantu menjangkau generasi baru. Membantu menyampaikan pesan dengan cara yang lebih mudah diterima publik.

Namun di sinilah letak persoalannya. Setiap mitra strategis juga membawa risiko strategis.

Dalam dunia penerbangan, ada istilah yang menarik. Semakin besar pesawat, semakin besar pula prosedur keselamatannya. Mengapa? Karena dampak risikonya juga semakin besar. Begitu pula dengan influencer. Semakin besar pengaruhnya, semakin besar pula risiko yang harus dikelola.

Risiko pertama adalah risiko reputasi. Ketika influencer mengalami masalah, travel dapat ikut terkena dampaknya.

Risiko kedua adalah risiko ekspektasi. Kadang-kadang konten yang terlalu menarik dapat membangun harapan yang terlalu tinggi. Ketika kenyataan tidak sepenuhnya sama dengan ekspektasi, yang muncul adalah kekecewaan.

Risiko ketiga adalah risiko ketergantungan. Travel yang terlalu bergantung pada satu figur bisa kehilangan sebagian pasarnya ketika figur tersebut tidak lagi aktif atau tidak lagi dipercaya.

Namun menurut saya ada risiko yang jauh lebih besar. Yaitu ketika kepercayaan jamaah tidak lagi melekat pada perusahaan, tetapi melekat sepenuhnya pada individu. Padahal individu bisa berubah. Popularitas bisa naik dan turun. Tetapi institusi harus tetap berdiri.

Karena itu tugas utama travel bukan membangun ketergantungan pada influencer. Tapi membangun kepercayaan terhadap institusinya sendiri. Influencer boleh membantu membuka pintu. Tetapi yang membuat jamaah tetap datang kembali adalah kualitas pelayanan, integritas, dan amanah.

Mungkin inilah pelajaran penting yang perlu kita renungkan menjelang Mukernas 2026 AMPHURI. Di era digital, travel memang membutuhkan strategi pemasaran yang modern. Tetapi jangan sampai strategi pemasaran tumbuh lebih cepat daripada fondasi amanah yang menopangnya.

Karena pada hakekatnya, yang menjaga keberlangsungan sebuah travel bukanlah viralitas. Tetapi kepercayaan. Dan kepercayaan selalu lahir dari amanah. Bagaimana pendapat anda?

(Bersambung…)

~ Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI


Comments

No comments yet. Be the first to comment.

Leave a Comment

Your email will not be published.
Your comment will appear after admin approval.