May 24, 2026 Hayat Amphuri
AMPHURI.ORG, MAKASSAR–Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia Sulawesi, Maluku dan Papua (DPD AMPHURI Sulampua) M Azhar Gazali mengatakan industri travel umrah dan haji di Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar yang diibaratkan sebagai ‘petir di siang bolong’. Pasalnya, saat memasuki musim umrah 1448H, harga tiket mengalami kenaikan yang tak kira-kira.
“Di saat para pelaku usaha bersiap menyambut musim depan, yakni bulan Juli–Agustus, muncul kebijakan dari Maskapai, tentang kenaikan harga yang tinggi. Jamaah yang sudah membayar untuk musim depan mau tidak mau diminta menambah biaya,” ungkap Azhar Gazali, di Makassar, Minggu (24/5/2026) seperti dikutip situs berita terkini.com.
Menurut Azhar, setidaknya kenaikan harga ini didorong tiga komponen utama. Pertama, lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang sangat signifikan. Kedua, adanya penyesuaian kurs dolar yang terus fluktuatif, terutama setiap memasuki musim haji. Ketiga, meningkatnya biaya operasional maskapai secara keseluruhan.
Azhar menambahkan, dampak dari faktor-faktor ini tidak main-main. Jika biasanya kenaikan harga tiket hanya berkisar di angka ratusan ribu rupiah, kali ini kenaikannya hampir menyentuh angka Rp6.500.000 per tiket.
“Harga tiket yang semula berada di kisaran Rp15,5 juta hingga Rp15,8 juta melonjak drastis menjadi Rp21.500.000,” ungkap Azhar Gazali.
Tentunya, kata Azhar, lonjakan harga ini menciptakan situasi sulit bagi jamaah yang sudah membayarkan uang muka (Down Payment/DP). Pasalnya, jumlah kenaikannya sangat besar, pihak travel (penyelenggara perjalanan ibadah umrah/PPIU) tidak mungkin memberikan subsidi, sehingga beban tersebut otomatis dialihkan kepada jamaah.
Bagi jamaah kelas menengah ke atas, tambahan biaya sekitar Rp5 juta mungkin tidak menjadi penghalang besar demi tetap berangkat sesuai jadwal izin cuti. Namun, bagi masyarakat menengah ke bawah, tambahan biaya ini sangat memberatkan karena bisa setara dengan uang saku atau biaya membeli oleh-oleh di tanah suci.
“Kondisi ini dikhawatirkan akan menurunkan daya beli masyarakat dan memaksa banyak jamaah untuk menunda keberangkatan mereka,” ujarnya.
Merespon situasi ini, lanjut Azhar, berbagai asosiasi seperti AMPURI dan lintas asosiasi lainnya telah mengambil langkah tegas, di antaranya memboikot dengan menarik kembali DP, hingga negosiasi. (hay)
May 25, 2026 • 50457 views
Nov 21, 2025 • 2533 views
Nov 03, 2025 • 1244 views
Oct 29, 2025 • 415 views
May 28, 2026
May 27, 2026