Jun 13, 2026 Editorial • 24 views
Catatan Jelang Mukernas 2026: Umrah, Influencer, dan Masa Depan Kepercayaan
Episode 1: Mengapa Jamaah Lebih Percaya Influencer Daripada Travel?
Oleh: Ulul Albab
SAYA teringat sebuah pertanyaan sederhana. Jika hari ini seseorang ingin membeli ponsel baru, memilih sekolah untuk anaknya, mencari restoran, atau menentukan travel umrah yang akan mengantarkannya ke Baitullah, kepada siapa ia akan bertanya?
Jawabannya sering kali bukan kepada ahli. Bukan kepada akademisi. Bukan pula kepada lembaga yang berwenang. Tetapi kepada media sosial. Lebih tepatnya: kepada influencer.
Inilah salah satu perubahan terbesar yang sedang terjadi di masyarakat kita. Perlahan tetapi pasti, sumber kepercayaan publik sedang bergeser. Dulu jamaah memilih travel karena reputasi perusahaan. Karena pengalaman keluarga. Karena rekomendasi tokoh masyarakat. Karena rekam jejak yang dibangun bertahun-tahun.
Hari ini keadaan mulai berbeda. Banyak calon jamaah pertama kali mengenal sebuah travel justru dari Instagram, TikTok, YouTube, atau berbagai platform digital lainnya. Nama travel mungkin baru terdengar beberapa bulan. Namun karena dipromosikan figur yang mereka sukai, rasa percaya pun segera tumbuh.
Fenomena ini sebenarnya tidak aneh. Manusia memang cenderung mempercayai orang yang sering dilihat. Semakin sering muncul di layar ponsel, semakin terasa dekat. Semakin terasa dekat, semakin mudah dipercaya. Padahal kedekatan itu sering kali hanya kedekatan digital.
Kita merasa mengenal seseorang, padahal belum pernah bertemu. Kita merasa memahami karakternya, padahal yang kita lihat hanyalah bagian-bagian kehidupan yang dipilih untuk ditampilkan. Di sinilah tantangannya.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan influencer. Banyak influencer yang profesional, jujur, dan bertanggung jawab. Mereka bahkan membantu masyarakat mendapatkan informasi yang lebih mudah dipahami.
Namun publik juga perlu menyadari bahwa popularitas tidak selalu sama dengan kredibilitas. Banyak pengikut tidak otomatis berarti banyak kompetensi. Banyak penonton tidak selalu berarti banyak pengalaman.
Dalam industri umrah, persoalan ini menjadi jauh lebih penting. Sebab yang sedang dipilih bukan sekadar produk atau jasa. Yang sedang dipilih adalah amanah. Ada tabungan bertahun-tahun. Ada harapan keluarga. Ada kerinduan menuju Tanah Suci.
Karena itu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama bukanlah apakah influencer boleh mempromosikan travel atau tidak. Pertanyaannya adalah: apakah kita sudah cukup bijak membedakan antara popularitas dan kredibilitas?
Sebab pada dasarnya, perjalanan menuju Baitullah tidak boleh hanya dibangun di atas rasa suka. Tapi harus dibangun di atas kepercayaan yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Dan mungkin, di era digital seperti sekarang, itulah tantangan terbesar industri umrah kita: menjaga agar kepercayaan tetap berdiri di atas amanah, bukan semata-mata di atas popularitas. (*)
(Bersambung…)
~ Ulul Albab, Ketua Bidag Penelitian dan Pengembangan (Litbang) DPP AMPHURI
No comments yet. Be the first to comment.
May 25, 2026 • 53,451 views
Nov 21, 2025 • 5,476 views
May 27, 2026 • 3,729 views
Nov 03, 2025 • 1,905 views
Jun 12, 2026 • 15 views
Jun 10, 2026 • 59 views
Jun 09, 2026 • 61 views
Jun 08, 2026 • 57 views