May 26, 2026 Hayat Amphuri
Oleh Ulul Albab
HARI ini, Selasa 26 Mei 2026, adalah Hari Arafah, bertepatan dengan 9 Dzulhijjah. Hari ketika jutaan umat Islam yang sedang berhaji berkumpul di Padang Arafah untuk bermunajat, menangis, berdoa, dan mengetuk pintu langit memohon ampunan Allah SWT. Sebuah hari yang sangat mulia, penuh harapan, keheningan batin, dan refleksi kemanusiaan.
Pagi tadi, usai jamaah shalat Subuh di Masjid Subulussalam Griyo Wage Asri Sidoarjo —sebuah masjid yang bangunannya sangat megah dan indah meski berada di lingkungan perumahan yang bukan kelas elite— seperti biasa saya mengistiqamahkan diri untuk berdzikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar hingga terbit matahari (tuluk/syuruk), lalu menutupnya dengan dua rakaat shalat tuluk. Sebuah amalan yang dalam hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) disebut memiliki pahala seperti haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.
Usai kegiatan itu, saya keluar masjid. Di teras masjid tampak beberapa tokoh dan pengurus masjid yang juga panitia qurban sedang berkumpul membahas persiapan penyembelihan hewan qurban dan berbagai teknis pelaksanaannya.
Namun ada satu hal menarik pagi itu. Yaitu: Salah seorang di antara mereka, yang juga Sekretaris Takmir Masjid Subulussalam, yaitu Ustadz Arifin, memanggil saya. Tanpa banyak bicara, beliau menunjukkan sebuah link berita di telepon genggamnya. Sebuah cerita tentang seorang anak muda bernama Miftah Rizaq.
Awalnya saya mengira itu hanya salah satu konten media sosial biasa. Tetapi setelah saya membaca dan mendiskusikannya secara singkat dengan beliau, saya justru merasa bahwa kisah itu sangat inspiratif dan layak direnungkan bersama. Karena sesungguhnya, kisah itu bukan hanya tentang satu orang muda, tetapi tentang kegelisahan zaman yang sedang kita hadapi hari ini.
Miftah Rizaq bukan pejabat. Bukan tokoh besar. Bukan pula selebritas arus utama. Ia hanyalah seorang anak muda yang melalui media sosial mencoba menghadirkan kepedulian sosial, empati kemanusiaan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.
Namun justru di situlah letak kekuatannya. Di tengah dunia digital yang hari ini dipenuhi kemarahan, hujatan, pencitraan, flexing kekayaan, dan perlombaan mencari sensasi, muncul anak-anak muda yang memilih jalan berbeda: menghadirkan ketulusan.
Dan ternyata, masyarakat sangat merindukan itu. Kita hidup di zaman ketika rakyat semakin lelah terhadap kepalsuan sosial. Terlalu banyak pidato besar tetapi minim empati. Terlalu banyak simbol kesalehan tetapi kadang miskin kepedulian. Terlalu banyak orang bicara agama, tetapi sedikit yang benar-benar menghadirkan kasih sayang bagi sesama.
Mungkin karena itulah figur seperti Miftah Rizaq mendapatkan tempat di hati publik. Bukan karena kemewahannya. Tetapi karena kesederhanaannya. Bukan karena kekuasaannya. Tetapi karena sisi manusianya.
Fenomena ini sebenarnya menarik dibaca secara lebih dalam. Sebab hari ini otoritas moral perlahan bergeser. Dahulu masyarakat hanya mendengar tokoh formal: pejabat, ulama besar, profesor, atau media arus utama. Tetapi sekarang, seorang anak muda biasa yang berbicara jujur dan peduli kepada orang kecil justru bisa lebih dipercaya publik.
Ini sekaligus menjadi kritik sosial yang sangat keras bagi kita semua. Mengapa masyarakat begitu mudah tersentuh oleh tindakan-tindakan sederhana seperti membantu orang lapar, memperhatikan kaum kecil, atau menunjukkan empati sosial di media digital?
Jawabannya mungkin sederhana: karena masyarakat merasa terlalu lama hidup dalam kekeringan ketulusan.
Rakyat sebenarnya tidak selalu meminta hal-hal besar. Mereka hanya ingin diperlakukan secara manusiawi. Didengar. Dipedulikan. Tidak dianggap sekadar angka statistik pembangunan.
Dan mungkin di situlah pelajaran paling penting dari kisah seperti Miftah Rizaq. Bahwa dunia ini tidak hanya membutuhkan orang pintar. Tidak hanya membutuhkan orang terkenal. Tidak hanya membutuhkan orang kaya. Tetapi dunia sangat membutuhkan manusia yang masih memiliki hati.
Terlebih di Hari Arafah seperti hari ini, ketika jutaan manusia di Tanah Suci sedang menangis memohon ampun kepada Allah SWT, sesungguhnya kita sedang diingatkan kembali bahwa inti agama bukan hanya ritual, tetapi juga kepekaan sosial dan kemuliaan akhlak. Sebab bisa jadi, di hadapan Allah, bukan seberapa viral seseorang yang dinilai. Tetapi seberapa tulus ia menjaga kemanusiaannya. (*)
~ Ulul Albab, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan DPP AMPHURI, Ketua ICMI Jawa Timur
May 25, 2026 • 34127 views
Nov 21, 2025 • 1389 views
Nov 03, 2025 • 614 views
May 20, 2026 • 226 views