Logo

Rizaldy: Manasik Haji sebagai Upaya Persiapan Ilmu, Fisik dan Mental Jamaah

Apr 21, 2026 Hayat Amphuri

AMPHURI.ORG, JAKARTA–Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima dan wajib untuk ditunaikan bagi orang Islam yang sudah mampu secara lahir dan batin. Ibadah yang menjadi penyempurna rukun Islam ini, hanya dilakukan setahun sekali dalam penanggalan hijriyah dan puncaknya di bulan Dzulhijjah.

Demikian disampaikan Direktur Utama Jejak Imani Travel, Muhammad Rizaldy Latief, dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Rizaldy mengatakan, sebelum melaksanakan rangkaian ibadah, jamaah haji khusus 1447H mendapatkan pembekalan haji secara menyeluruh. Tak hanya berfokus pada teknis ibadah melalui manasik haji.

“Sebelumnya calon jamaah haji juga telah mendapat materi melalui manasik online. Sekarang para tamu Allah ini akan mengikuti manasik haji secara offline,” katanya.

Menurutnya, pada manasik haji offline yang digelar selama tiga hari, jamaah haji mendapatkan materi yang mencakup pendalaman ilmu, tips kesehatan dan latihan fisik, penguatan mental hingga pembinaan spiritual jamaah.

“Setiap materi manasik offline disampaikan oleh para ahli di bidangnya masing-masing,” ujarnya.

Lebih lanjut Rizaldy mengatakan, pada manasik hari pertama yang berlangsung pada 17 April 2026 diawali dengan kehangatan dan kebersamaan lewat perkenalan antar jamaah. Kemudian, dilanjut dengan materi manasik yang sangat bermakna dan menjadi bahan refleksi dalam setiap rangkaiannya yang diampu sejumlah tour leader seperti Ustadz Jundi Imam Syuhada, Ustadz M. Rizkon Hakiki, Ustadz Hepi Andi Bastoni, hingga Ustadz Faris BQ.

Kemudian pada hari kedua jamaah diajak untuk sholat tahajud berjamaah sebagai bentuk membiasakan ibadah sunnah. Saat pagi menjelang, jamaah kembali mengikuti manasik haji hari kedua. Fokus materi pada hari kedua ini ada pendalaman ilmu, kesiapan fisik, serta mental jamaah.

“Pengisi materi manasik hari kedua yakni ustadz pembimbing, dokter spesialis internist dan dokter spesialis rehab medik,” jelasnya.

Pada manasik haji hari ketiga, kata Rizaldy, jamaah dibekali materi fiqh dan rencana perjalanan haji. Jamaah mendapati materi mulai dari fiqih wanita oleh Ustadz Eko Kholistio Putro. Sementara materi terkait alur perjalanan haji disampaikan langsung oleh dirinya.

“Selama manasik offline yang berlangsung tiga hari jamaah, tak hanya mendapatkan materi manasik namun juga dilakukan pemeriksaan kesehatan gratis supaya jamaah juga aware pada kondisi fisik,” jelas Rizaldy.

Rizaldy menambahkan, haji merupakan ibadah panjang yang hanya digelar setahun sekali dan butuh waktu tunggu cukup lama untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, bagi calon tamu Allah yang mendapat kesempatan dipanggil untuk pergi berhaji sebisa mungkin untuk melaksanakan rukun dan wajib haji supaya ibadah sah.

“Sebagai bentuk ikhtiar dalam kesempurnaan ibadah haji, perlu adanya pembekalan ilmu dan mental melalui manasik haji yang dilaksanakan sebelum keberangkatan haji. Manasik haji bukan sekadar formalitas, tapi proses penting untuk mempersiapkan jamaah secara utuh mulai dari ilmu, fisik, mental, dan spiritual,” kata Rizaldy.

“Melalui pembekalan teknis, pemaparan teknis ibadah, penguat fisik, hingga pendalaman makna lewat ibadah dan tazkiyatun nafs, jamaah dilatih menghadapi berbagai kondisi di Tanah Suci dengan tenang dan tepat,” pungkasnya sembari berharap semoga jamaah dapat memahami materi dan praktik setiap rangkaian ibadah haji hingga menjadikannya haji mabrur. (hay)