Logo

Sering Jadi Titik Krusial, Komnas Haji Minta Muzdalifah Dapat Perhatian Khusus

May 22, 2026 Hayat Amphuri

AMPHURI.ORG, MEKKAH–Puncak haji 1447H/2026 tinggal beberapa hari lagi, tepatnya tanggal 25 Mei 2026. Jamaah haji dari Indonesia bersama jamaah haji dari seluruh dunia yang diperkirakan berjumlah 1,6 juta orang akan bergerak serentak menuju tiga tempat utama prosesi ibadah yang biasa disebut Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) dalam rentang waktu 8-13 Dzulhijjah.

“Berdasarkan pengalaman faktual tahun 2023 dan 2025, pergeseran jamaah haji Indonesia kerap kali mengalami kendala manakala harus bergeser dari Muzdalifah ke Mina, sehingga tidak sesuai jadwal yang menimbulkan kepanikan di kalangan jamaah karena harus berkejaran dengan waktu melaksanakan tahapan ibadah berikutnya di tengah bayang-bayang cuaca ekstrim,” kata Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, dalam keterangan tertulisnya, di Mekkah, Jumat (22/6/2026).

Kondisi tersebut, kata Mustolih, membuat jamaah harus berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina sehingga fisik dan eneri jamaah terkuras menyebabkan kelelahan, jatuh sakit bahkan memicu kematian.     

Musababnya, kata Mustolih, bus-bus yang seharusnya mengangkut jamaah terjebak kemacetan luar biasa tidak bisa masuk area Muzdalifah. Akhirnya jamaah harus berjalan kaki menuju Mina. Sesampainya di Mina, lanjut Mustolih, jamaah harus melakukan ibadah lanjutan berupa Jumrah Ula, Aqobah dan Wustho ke Jamarat di Mina, lalu bergerak kembali ke Mekkah untuk tawaf ifadah, sa’i dan tahallul.

“Kondisi demikian ini membuat jamaah harus berjalan kaki ke Mina sehingga fisik dan energi jamaah terkuras menyebabkan kelelahan ekstrim, dehidrasi, jatuh sakit dan menjadi penyebab jamaah wafat,” tegasnya.

Karena itu, Komnas Haji mengingatkan, agar peristiwa haji 2023 dan 2025, Muzdalifah harus dikelola dengan sebaik-baiknya dan mendapatkan perhatian khusus. Koordinasi PPIH dengan syarikah penyedia layanan transportasi harus lebih intensif untuk memastikan tidak ada kendala keterlambatan transportasi.

“Harus cermat, cepat dan akurat membaca situasi yang cepat berubah atas kebijakan otoritas Arab Saudi yang berubah dalam hitungan menit,” ujar Mustolih mengingatkan. 

Disamping itu, kesiapsiagaan dan komunikasi antar petugas juga harus diperkuat lagi, karena menjadi kunci mengelola pergerakan jamaah. Selain itu, jamaah jangan sampai terpisah dari rombongannnya, tetap mengikuti arahan dari petugas, pimpinan rombongan maupun regu.

Mustolih menambahkan, pada titik ini, jamaah lansia, berisiko tinggi (risti), penyandang disanilitas dan kalangan perempuan harus mendapat prioritas pelayanan di Armuzna.

“Jika situasi di Muzdalifah bisa terkendali dan dikelola dengan baik, biasanya pergerakan di Mina juga relatif bisa tertangani,” pungkasnya. (hay)